Sebenarnya liburan-liburanku sebelumnya nggak jauh-jauh dari mencari ketenangan. Apakah kehidupanku betul-betul jauh dari ketenangan? Sebuah pertanyaan yang cukup mengusik hati.

Dibilang tidak tenang tidak juga, tapi hari-hariku cukup gedebak gedebuk. Dan ada beberapa jam akan terasa santai, lambat dan tenang ketika anak-anak tidur di saat aku tidak tidur. Tapi liburan itu memang seorang ibu tidak benar-benar libur. Hanya pindah tempat ngasuh aja. Bedanya nggak masak-masak aja. Hehe.

Selama di Yogya, selain mencari suasana yang tenang dengan pergi ke Hutan Pinus Mangunan, aku tidak mau melewatkan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (dok. Pri)

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta di Tengah Kota

Kalau tidak salah kami sudah selesai mengunjungi Taman Sari Yogyakarta, kami harus mencari masjid terdekat yaitu di Masjid Gedhe Kauman.

Masjid ini berada di dekat alun-alun Kraton Ngayogyakarta di Jalan Masjid Gedhe, Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Penentuan lokasi masjid Gedhe Kauman Yogya ini mengikuti konsep penataan kota-kota di Jawa di mana lokasi masjid berada di sebelah barat alun-alun (utara).

Kenapa harus ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta?

Sebenarnya banyak alasan kenapa aku pengen sholat di masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Dulu waktu tugas kuliah harus stay di Yogya selama seminggu, aku sebenarnya tidak terlalu mengingat apakah aku sholat di masjid ini atau tidak. Seingatku belum sama sekali. Jadi rasanya aku tidak ingin melewatkan sholat di sini selama beberapa hari di Yogya. 

Termasuk bangunan cagar budaya

Tapi tentunya karena masjid ini punya sejarah yang kuat. Masjid Gedhe Kauman Yogya telah melewati masa-masa sejarah Indonesia hingga ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya. 

Salah satu kriteria bangunan ditetapkan sebagai cagar budaya adalah jika usianya di atas 50 tahun. 

Karena waktu kuliahku dulu juga membahas tentang pelestarian bangunan bersejarah jadi rasanya kunjungan ke bangunan cagar budaya itu jadi wishlist. Aku tidak mau melewatkannya. 

Saksi Sejarah Kesultanan

Masjid Gedhe Kauman ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono 1 setelah membangun Keraton Yogyakarta sekitar tahun 1773 M. Di tahun tersebut, Indonesia masih dikuasai oleh kongsi dagang Belanda atau VOC.

Masjid tersebut dibangun tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat kebudayaan kraton.

Arsitektur Yang Keren

Ketika aku melewati gerbang masjid, dari jauh tampak atap masjid yang bertumpang tiga, hampir sama seperti masjid Sunan Ampel, dan memiliki ukiran yang khas Kraton Yogyakarta.

Seorang tukang sedang berdiri di depan atap berukiran berlogo Kraton Yogyakarta tersebut. Saat itu atap masjid sedang dalam renovasi dan dicat. 

Yang Keren di bagian puncak atap ada hiasan seperti mustaka begitu yang tak hanya bermanfaat menjadi penangkal petir. 

Di bagian depan masjid ini ada ruang terbuka yang luas dikelilingi oleh bangunan khas zaman dulu yang masih terawat. Beberapa pohon ditanam berjejer di pinggir ruang terbuka masjid.

Beberapa orang berlalu lalang keluar dan masuk masjid. Sebagian telah melaksanakan ibadah wajib.

Di depan masjid terdapat pagar tembok berlubang sehingga aktivitas di dalamnya tidak terlihat dari ruang terbuka. Ini bagus agar aktivitas akhwat tidak terlalu terekspos. 

Ketika masuk masjid, beberapa orang sedang melaksanakan sholat di serambi masjid yang tampak dari luar. Masjid ini hampir sama seperti masjid Jami' di Solo.  

Aku pun segera pergi ke tempat wudhu. Sayangnya tempat wudhu sedikit terbuka sehingga harus hati-hati agar tidak tampak oleh ikhwan.

Sebenarnya konsep tempat wudhu masjid ini masih menggunakan konsep jaman dulu di mana penampungan air diletakkan di tengah berbentuk lingkaran dan kran-kran mengelilinginya.

Di bagian serambi tampak pilar-pilar berhiaskan ukiran yang sangat khas. Warna emas lebih mendominasi pada ukiran atap dan pilar masjid. 

Atap serambi masjid yang atapnya penuh ukiran (dok. Pri)

Lampu-lampu hias masjid menggantung di atapnya membuat semakin mewah. Aku terpana meski hanya di serambi masjid.

Untuk memasuki serambi masjid, aku harus naik karena posisinya lebih tinggi dari tanah.

Aku tidak memasuki bagian dalam masjid. Saat itu aku melihat pintu masjid ke bagian dalam masjid sedang tertutup. Pintu masjidnya pun berukiran berwarna emas dan cokelat.

Di bagian atasnya, ada tulisan berjalan untuk memberi keterangan waktu sholat.

Di sekeliling masjid ini juga ada taman kecil tapi saat itu sedang direnovasi. 

Lampu-lampu khas seperti di Malioboro juga dipasang di pinggir taman masjid ini. Beberapa pak tukang sedang memperbaikinya. 

Anak-anak melewati jembatan kecil, bermain di taman yang sederhana. Beberapa orang masih duduk-duduk di serambi masjid. 

Garis Shaf Yang Berubah

Adakah yang mengikuti kisah KH. Ahmad Dahlan yang dulu pernah memberi tahu arah shaf sholat yang benar?

Shaf baru dengan garis hitam (dok. Pri)

Dan di masjid Gedhe ini juga tampak perubahan tersebut. Sangat jelas terlihat banyak garis berwarna hitam yang miring tidak sesuai dengan arah bangunan masjid. 

Ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmu KH. Ahmad Dahlan yang belajar di tanah Haram terus dirasakan oleh umat Islam sampai saat ini.

MaasyaAllah. InsyaAllah menjadi pahala jariyah beliau.

Kesimpulan

Alhamdulillah akhirnya aku bisa merasakan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Tapi kalau dibandingkan dengan masjid-masjid yang pernah aku kunjungi, seperti masjid Pura Mangkunegaran, masjid Ar-Rahman, masjid Jami' Solo atau Masjid Al-Akbar, maka masjid Gedhe Kauman Yogya ini sangat khas banget ukirannya. Sebenarnya ada banyak makna dari tiap ukiran tersebut. Sayangnya nggak aku bahas karena pasti banyak banget. Sayang bangetnya lagi aku nggak lihat bagian dalam masjid yang tampaknya juga mewah. Mungkin kapan-kapan lagi aku harus sholat di masjid ini.

Read More
Hutan Pinus Mangunan
Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta (dok.pri)

Di tengah hutan Yogyakarta, tepatnya di Bantul, Hutan Pinus Mangunan menjadi salah satu destinasi wisata di Yogyakarta yang wajib kukunjungi. Sebenarnya bukan karena fasilitasnya tapi karena menatap kawanan pepohonan seperti melepas kerinduanku pada kehidupan masa kecilku di Kalimantan.

Bersama keluarga besar mertua, kami berangkat dari villa sekitar jam 10an. Berbekal Google Maps, perjalanan ke Hutan Pinus Mangunan melewati jalanan terabasan, tidak lebar, berlubang, dan berbukit. Jalanan yang tidak biasa dilewati oleh mobil. Dan mungkin hanya dilewati oleh orang-orang yang hanya memasrahkan diri pada arahan cantik operator Google Maps tanpa dikritisi.


Kami ramai memprotes arahan operator GMaps. Bersikukuh memilih jalan yang benar tapi driver kami tetap melanjutkan dengan pandangan yang tenang.

Sekitar setengah jam, kami kembali ke jalanan utama. Jalanan aspal yang lebih halus, lebih lebar dan lebih ramai. Legalah kami. Jalanannya naik dan turun karena kami memang akan berjalan menuju perbukitan.

Tibalah kami di daerah hutan-hutan yang penuh dengan pepohonan tinggi. Udaranya sejuk meski tidak sesejuk udara kota Malang. Sekitar satu jam kami tiba di wisata alam Hutan Pinus Mangunan. Banyak kendaraan yang berbelok ke arah tempat parkir di bawah pepohonan.

Di sebelah kanan jalanan tampak tulisan Hutan Pinus Mangunan, sebelah kiri tampak banyak mobil dan bus yang terparkir di bawah pohon pinus. Tulisan parkir terlihat jelas. Kami berbelok dan memasuki wilayah yang luas, yang banyak pepohonan dan berpasir.

Meski sudah menunjukkan pukul 11 lebih, siang itu tidak terlalu panas karena kami dilindungi oleh pepohonan yang banyak dan tinggi.

Daerah Ketinggian Yogya Yang Sejuk dan Teduh

Hutan Pinus Mangunan ini berada di desa Mangunan, kecamatan Dlingo, Kabupateh Bantul, DIY. Hutan Pinus ini berada di sekitar 200-300 mpdl karena itu udara di sana sejuk tidak seperti di pusat kota Yogya.

Untuk orang Malang yang terbiasa dengan udara sejuk mungkin lebih betah di daerah ketinggian ini. Oleh karenanya, pohon-pohon pinus hsia dptjmbuh di dataran yang tinggi ini.

Wisata Murah Meriah

Wisata alam di Yogyakarta ini bisa dibilang murah banget karena harga tiket satu pengunjung hanya tujuh ribu rupiah. Kedatangan kami yang rombongan memang meramaikan suasana tempat wisata. Loket yang kami datangi tampak bingung dengan kehebohan para krucil. Ia sibuk menghitung, kami pun sibuk menghitung. Kebayang kalau jadi guru TK ngurusin anak kecil banyak banget! Dah nyerah banget.

Setelah menghitung total jumlah tiket yang harus dibayar, anak-anak langsung berlarian di antara pepohonan.

Nge-charge Energi di Bawah Pepohonan Pinus Mangunan

Di depanku, tampak pepohonan pinus berbaris layaknya pasukan yang siap bertempur. Halah. Dedaunan yang hijau menyejukkan pandangan mata.

Efek kamera saja yaaa (dok.pri) 

Mungkin bagi sebagian orang merasa biasa saja memasuki salah satu tempat wisata alam yang viral di Yogyakarta. Tapi bagi aku, mengunjungi hutan pinus Mangunan seperti mengisi energi yang telah lama habis.

Anak-anak senang berlarian ke sana kemari. Aku rasa meski kontur tempat wisata ini menurun, tempat ini aman untuk dikunjungi semua usia. Jembatan-jembatan kayu dipasang untuk memfasilitasi pengunjung yang kesulitan melewati jalan yang menurun. Jadi tidak ada yang terpleset. Di jalur-jalur yang dibangun jembatan itu, juga ada tempat berfoto agar terlihat barisan pepohonan.

Ada apa di Hutan Pinus Mangunan?

Sebenarnya di sini tidak terlalu banyak fasilitas bermain seperti di Lawu Green Forest. Di sini lebih sederhana. Ada taman, studio alam, spot kapal, aula dan panggung. 

Di tengah-tengah tempat wisata ada amphitheatre terbuka dengan tempat duduk kayu yang berundak-undak. Di bagian depan terdapat seperti panggung alami tanpa kayu. Sebagian pengunjung duduk di kursi kayu itu untuk beristirahat, mengobrol, meski tidak ada pertunjukan di hadapan mereka.

Panggung dengan pola seperti amphitheatre (dok. Pri)

Di sisi lain, tempat mini outbound untuk anak-anak banyak diminati anak-anak. Ada jaring-jaring tali pendek. Pengunjung anak-anak senang hisa merasakan berjalan di atas tali simpul. Mereka harus berhati-hati jika tidak ingin kaki mereka masuk ke dalam lubang tali. Dari wajah mereka tampak ada rasa takut tapi juga penasaran ingin mencoba. Akhirnya mereka mencoba dan mengendalikan rasa takutnya.

Mini Outbond (dok. Pri)

Menikmati Makan Siang di Bawah Pepohonan

Para orang tua duduk menyaksikan anak-anak mereka bermain-main. Sekitar setengah jam berlalu, perutku terasa seperti ditusuk-tusuk. Dan tentu tidak cuma aku saja, keluagaku juga merasakannya. Memang ini waktunya jam makan siang karena sudah pukul 1 siang.

Mertua mengajak kami mencari tempat untuk makan siang. Kami pun duduk di tanah yang agak lapang dan agak rata. Alas duduk dihamparkan. Tempat-tempat makan yang diambil dari mobil diletakkan di atas alas duduk. Anak-anak sudah bermain di dekat kami.

Mereka menyusun potongan-potongan kayu yang ada di sekitar dan menumpuknya seolah-olah sedang membuat api unggun atau tempat memanggang hewan buruan, meski tak ada juga hewan buruan.

Setelah itu, kami segera makan dan menghabiskan makanan yang kami bawa. Alhamdulilah, perut kami terisi dan tidak lagi berbunyi hehe.

Sayang banget bagian ini nggak kefoto karena sudah terlalu lapar. Sudah tidak ingat mau ambil foto. Hehe.

Kesimpulan

Wisata ini memang cocok untuk pengunjung yang suka selfie atau wefie karena memang pohonnya secantik itu. Memang kurang wahana bermain untuk anak-anak dan hanya bisa untuk berlarian. Tempat ini cocok untuk kalian yang mau mencari tempat yang tenang dan membiarkan anak mengeksplorasi tempat sesukanya tanpa harus membatasi kreasi mereka. 
Read More
Setelah mengistirahatkan diri di villa Yogyakarta, kami mencari tempat wisata di Yogyakarta. Ada beberapa tempat yang menarik dikunjungi selain Malioboro. Aku juga penasaran dengan tempatnya. Salah satunya adalah Taman Sari Yogyakarta, yang sebenarnya kurang cocok buat anak-anak sih. Selain wisata budaya, aku mencari tempat wisata sejarah yang disukai anak-anak. Tiba-tiba aku teringat setiap ke Yogyakarta selalu melewati kompleks Angkatan Udara. Jangan-jangan ada museumnya? Setelah searching di Google, eh iya bener ada namanya Museum Dirgantara.

museum dirgantara yogyakarta
Museum Dirgantara Yogyakarta (dok. pribadi)

Oiya sebenarnya aku udah lama banget pergi ke sini, mungkin sekitar 3 tahun lalu, tapi baru aku tulis sekarang hehe. Setelah aku lihat di Google, foto bangunannya seperti sudah direnovasi dan tampilannya beda seperti dulu. 

Museum Dirgantara

Matahari pagi itu memang sudah beranjak naik. Setelah sarapan, aku mengajak suami, anak-anak dan mertua ke Museum Dirgantara. 

pangkalan TNI AU Adi Sutjipto
Masuk ke Museum Dirgantara (dok. pribadi)

Perjalanan tidak terasa jauh. Ketika kami sudah berada di lokasi yang ditunjukkan Google Maps, kami sempat bingung dimana pintu masuknya. Kami sempat salah masuk gerbang, setelah itu petugas mengarahkan kami ke pintu gerbang menuju museum. Kami memasuki kompleks perumahan angkatan udara, melewati gerbang yang ada penjaganya. Aku tidak begitu ingat apakah petugas meminta kami menunjukkan identitas atau nggak.

Tampak keramaian di depan kami. Mobil-mobil terparkir. Orang-orang berlalu lalang. Anak-anak kecil berlarian. Tampak pesawat-pesawat yang tidak digunakan lagi diparkir dekat dengan parkir mobil. Mobil kami berjalan pelan. Warung-warung makan berada di kiri kanan bangunan. Ada yang sedang menikmati makanan. Kami mencari tempat parkir mobil. Anak-anak sudah heboh melihat pesawat-pesawat yang terparkir.

Kami berjalan mengikuti kebanyakan orang-orang karena aku sedikit kesulitan mencari pintu masuk. Hanya ada satu arah di mana pengunjung berbondong-bondong. Kupikir disitulah pintu masuknya. Setelah agak dekat, tulisan "Pintu Masuk" berwarna terang tampak meyakinkan setiap pengunjung bahwa mereka tidak salah jalan.

Tiket masuk Museum Dirgantara murah kok sekitar 10.000 rupiah. Karena aku tidak begitu ingat urutan ruangannya jadi aku akan menjelaskan apa yang masih teringat saja.

Apa yang menarik di Museum Dirgantara?

Museum Dirgantara adalah Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Yogyakarta yang berada di Banguntapan, Yogyakarta, dan mulai dibangun sekitar tahun 1978. Museum ini berisikan koleksi sejarah yang didominasi oleh pesawat terbang.

Banyak ruangan di museum ini yang menampilkan benda bersejarah TNI AU. Ada ruangan utama, ruang kronologi, ruang pahlawan, ruang alutsista, ruang diorama, dan lain-lain.

Berbagai macam dipamerkan di museum ini, seperti pesawat serbu, pesawat tempur, helikopter, pesawat patroli, dan pesawat lainnya.

Bagi anak-anak, melihat pesawat dari dekat adalah sesuatu yang menyenangkan. 

Melihat banyak jenis pesawat di ruang Alutsista

Ketika memasuki hanggar pesawat, pengunjung disuguhkan dengan banyaknya jenis pesawat helikopter. Di hanggar ini jelas cukup panas karena kurangnya pendingin ruangan, entah kipas atau AC portabel, atau sirkulasi udara yang kurang. Atap tinggi tidak menjamin sirkulasi udara bagus dan membuat suhu turun.

Suara pun cukup bising. Tak hanya berasal dari para pengunjung yang ramai. Juga dari mesin. Beberapa sudut dipasang kipas angin tapi rasanya masih panas.

Di setiap pesawat yang dipamerkan, sudah ada keterangan di bagian depan pesawat. Sebenarnya ktia tidak perlu bingung jenis pesawat apa. Tapi bagiku yang awam mengerti tentang pesawat, bagiku semua hampir sama saja.

Kalau nggak baca deskripsinya aku tidak akan tahu bahwa ada satu pesawat yang menjadi hadiah dari presiden Amerika Serikat bagi presiden RI yang menjadi pesawat kepresidenan di tahun 1962. Pesawat ini sudah membawa peesiden ke beberapa negara tetangga.

Ada juga semacam torpedo atau ruang kosong panjang yang menjadi ruang latihan awak pesawat untuk mengenalkan aerofisiologi.

Satu pesawat yang sengaja dibuka agar pengunjung bisa menaiki pesawat sudah menjadi rebutan para pengunjung. Mereka silih berganti turun dari pesawat kemudian diganti oleh pengunjung lain.

Naik pesawat di Yogyakarta
Anak-anak dan Atuknya di pesawat (dok. pribadi)

Anakku tidak sabar ingin menaikinya. Aku bilang sabar karena masih banyak pengunjung yang turun. Begitu mereka naik dari bagian ekor belakang, di dalamnya ada bangku-bangku, yang saling berhadapan. Maju sedikit menuju kepala pesawat, ruangannya lebih gelap dan padat. Duduknya menghadap depan. Koridor pesawat hanya bisa untuk 1 orang. Di bagian depan, sudah banyak anak-anak kecil yang belum bisa mencoba menyetir pesawat. Anakku pun bisa mencoba nyetir pesawat setelah menunggu dengan sabar.

main di cockpit pesawat
Naik cockpit pesawat (dok. pribadi)

Mengenal Tokoh TNI AU

Sebenarnya bagi anak-anak ruangan ini tidak terlalu menarik meski mereka jadi mengenal mengenai pakaian. Ruangan ini menjelaskan para tokoh TNI AU yang berjasa dalam dunia kemiliteran AU. Di sisi lain, ada satu peta Indonesia yang besar. Sebenarnya aku tidak terlalu berlama-lama di ruangan ini karena yaa begitu... hehe..

Tapi mertua dan suami malah bisa berlama-lama di sana. 

Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Yogyakarta
Mengenal Tokoh TNI AU (dok. pribadi)

Diorama yang cukup menarik 

Ruang diorama ini cukup luas dan menarik. Diawali dengan pengenalan tokoh pahlawan TNI AU. Di bagian awal ini, anak-anak malah lebih suka berlarian karena tempatnya yang luas. 

Beberapa kali aku harus memanggil mereka ketika akan memberi tahu sesuatu, misalnya saat menjelaskan foto-foto kegiatan para TNI AU, tentang Sekolah Penerbang, pahlawan TNI AU, tentang baju-baju para TNI AU.

Diorama di ruangan ini berisi patung dengan pakaian para TNI AU dan ada papan yang menceritakan tentang tokoh tersebut. Cuma masalahnya, kadang tulisannya terlalu penuh jadi mau baca pun udah capek duluan. Harusnya yang singkat-singkat aja. 

Kami juga mengenalkan kepada anak-anak tentang penggambaran 3 dimensi tentang peristiwa bersejarah perjalanan TNI AU dari tahun 1945-1960, koleksi senjata, komunikasi dna elektronika, dll.

Berapa lama keliling?

Kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Sebenarnya kalau mau menikmati semua diorama dan membaca semua keterangan pada diorama bisa menghabiskan waktu sampai 3 jam lebih. Tapi karena aku bawa anak-anak nggak bisa lama-lama. Mereka sudah rewel duluan. Merekanya happy aja bisa lihat banyak pesawat, lari ke sana ke mari, tapi kayaknya aku masih kurang banget kalau mau menikmati semua yang ada di museum. Sebenarnya seru banget sih ajak anak-anak. Apa lain kali aku sama suami aja kali ya yang datang? Jadi ngedate ke museum, hehehe.



Read More
Suatu waktu, sekeluarga pergi wisata ke Yogyakarta dan menyewa villa di daerah Bantul. Dulu, mencari villa di Yogyakarta memang susah-susah gampang. Entah bagaimana akhirnya, seorang kenalan bapak mertua memberikan informasi mengenai villa yang bisa kami tempati. Sayangnya, foto-foto tentang villa itu sudah hilang entah kemana. Hanya beberapa saja yang masih tersimpan. Tapi, yang jelas aku mau menyimpan kenangannya di sini laahh. Sayang banget kalau tidak aku tuliskan.

Bisa dibilang waktu itu masa liburan sekolah anak-anak. Tapi anak-anak libur apakah ibu benar-benar bisa berlibur??

Dan tujuan kami ke Yogyakarta adalah untuk bersua dengan keluarga bapak mertua yang sempat hilang kontak bahkan kampung masa kecil sebagian besar hancur semenjak gempa Yogyakarta 2006 silam. Saat itu keluarga mbah sudah pindah ke Blitar. Makanya sering banget aku ke Blitar–jalan-jalan ke alun-alun Blitar.

Dari malang, kami sekeluarga rombongan berangkat naik 2 mobil. Kami tiba di Yogyakarta menjelang siang hari. Matahari sudah terik. Kami menuju villa yang ada daerah Bantul. Dengan bantuan Google Map, kami menyusuri dari jalan-jalanan yang ramai hingga masuk kampung dengan jalanan yang sempit dan sepi. 

Rumah Joglo di Kawasan Yang Tenang

Kami sempat mengira salah jalan, karena rasanya tidak mungkin ada rumah villa di antara kampung-kampung ini. Dan setelah ditelusuri ternyata memang benar ada. Lokasinya di jalanan turunan di pojok kampung yang tidak mungkin dikira siapa pun. 

Pintu gerbangnya terbuat dari kayu dengan atap kayu. Desainnya seperti rumah jawa tradisional. Tak lama menunggu, penjaga villa datang dan membukakan pintu gerbang.

Ketika pintu terbuka, rumah joglo yang khas dengan bangunan semi terbuka tampak menyenangkan ditambah halaman rumput yang cukup dengan tiga mobil. 

Villa Joglo dari Luar (Hanya ini foto yang ada di Gallery ku wkwk)

Rumah joglo ini ada dua bangunan. Satu bangunan besar dan satu bangunan kecil untuk tempat bercengkerama. Vibe kehidupan Jawa begitu terasa. 

Mobil memasuki halaman berumput yang bisa menampung tiga mobil. Kami pun menurunkan barang-barang dari mobil. Anak-anak mulai berlarian ke tengah ruangan.

Di bagian depan bangunan di sisi kiri adalah ruang tamu. Furnitur-furniturnya terbuat dari kayu dan ditata sedemikian rapi. Di depan bangunan joglo ada taman-taman dengan meja kursi taman berpayung untuk menikmati suasana pagi dan sore tanpa khawatir terik matahari.

Di sisi kanan bangunan adalah dapur semi terbuka yang tidak terlalu besar ditambah mini bar untuk tempat meletakkan makanan. Di dapur sudah tersedia peralatan memasak jadi kami tidak perlu bingung untuk memasak. Ada kulkas juga untuk menyimpan makanan.

Anak-anak tak ada suaranya sebab layar tivi yang menempel di dinding mampu menhipnotis pandangan mereka. Mengalihkan pikiran mereka yang suka ramai menjadi tenang. Yap. Mereka sudah duduk anteng menikmati acara anak di layar tivi. 

Bangunan utama ini memiliki tiga kamar. Kamar pertama dekat dapur. Ruangannya cukup bagus dengan springbed di dalamnya. Ada kaca besar yang mengarah ke kebun yang penuh dengan pepohonan. Tidak bisa disebut kebun karena terlalu rindang dan lebat. Bisa dibilang seperti hutan.

Di sebelahnya ada musholla kemudian kamar mandi dan tempat wudhu. Di sebelahnya, ada kamar tidur dengan memiliki satu kasur single dengan dipan tinggi. Pintu kamar ini masih tradisional yang memiliki dua pintu yang berukir dan berlubang. Kamar yang paling ujung seperti kamar biasanya. Satu pintu dan kasur.

Ukiran pada pintu (dok. Pribadi)

Pemilik villa memberi kami 3 extra bed dengan kasur busa yang cukup besar. Karena kamar tidak cukup, sebagian ada yang tidur di luar. Meski ruangan tidak ber-AC tapi rasanya aku tidak mengeluh kepanasan. Mungkin karena rumah joglo, jadi anginnya masuk ke dalam rumah dan hawa terasa adem. Alhamdulilah anak-anak juga tidak ada yang rewel saat tidur mungkin karena capek banget ya.

Tragedi di Kolam Renang

Setelah menikmati hidangan, anak-anak tak sabar untuk berenang. Mereka segera bergegas melepas baju dan menuju ke kolam renang yang ada di dekat taman. Untuk menuju ke kolam renang, kita harus melewati tangga turun sedikit. Beberapa kali kami memberi pesan agar tidak berlari karena tangganya cukup tinggi. Khawatir licin aja sih.

Mereka pun segera berenang. Kolam renang ini memiliki dua jenis kolam yaitu untuk anak-anak dan untuk dewasa. Untuk dewasa dalamnya bisa mencapai 1 meter, sedangkan untuk anak-anak, kedalaman kolam sekitar 80 cm. Dan anak-anak bisa berenang sampai 3x sehari kayak minum obat aja. Hahaha. Kayaknya anak-anak nggak punya kesel ya.

Kolam anak-anak dan kolam orang dewasa (dok. Pribadi)

Yang palig kuingat adalah anakku ternyata sempat tenggelam. Ceritanya waktu itu tidak ada orang dewasa. Dia berjalan-jalan di pinggir kolam orang dewasa, terus dia mau mengambil daun yang sudah masuk ke kolam. Tapi namanya daun kalau di dalam air pasti ikut jalan. Tangannya mencoba mengambil daun sampai akhirnya tubuhnya tidak seimbang dan jatuh. 

Beruntung kakak sepupunya yang sudah besar dan berada di dekatnya segera menggapai tangannya agar segera tertolong. Bersyukurlah anakku langsung diangkat dan reflek menggapai pinggir kolam.

Kolam renang ini menurutku agak creepy padahal aku berenang juga tidak sendiri suami. Angin yang bertiup di antara sela tanaman sebenarnya terasa menenagkan tapi aku malah merinding. Hahaha. Akhirnya, aku tidak berenang lama-lama. Tapi ini hanya aku yang merasa begitu. Yang lainnya sih nggak. 

Di bagian belakang rumah, aku menuruni tangga dan melihat banyak perkakas-perkakas untuk berkebun atau membersihkan rumah. Di sekitarnya banyak pepohonan yang tumbuh.

Ketika malam hari, udara tidak panas karena angin malam memasuki seluruh ruangan. Anak-anak sudah mulai beristirahat. Saking lelahnya mereka terlelap.

Harga?

Aku lupa-lupa ingat untuk harga vila ini selama 2 hari 3 malam. Kalau tidak salah 5jutaan. Aku tidak tahu murah atau mahal ya? Aku rasa masih sesuai lah sama fasilitas yang tersedia. Karena di musim liburan waktu itu kami tidak menemukan vila lain yang bisa untuk orang banyak dan harganya terjangkau.

Akses 

Meski berada di Bantul–aku lupa banget nama daerahnya, kalau tidak salah Pleret– akses ke beberapa lokasi wisata di yogya tidak terlalu jauh kok. Mau ke pusat Kota Yogyakarta, kraton yogyakarta, ke Taman Sari yogyakarta, ke Museum Dirgantara Yogyakarta, juga masih cukup dekat. Mau wisata ke kabupaten seperti ke Hutan Pinus Mangunan pun juga tidak jauh. Artinya lokasi ini berada di tengah-tengah.

Vila yang Cocok Untuk Menenangkan Diri

Bagiku, villa ini cocok banget untuk healing. Tempatnya tenang. Jauh dari keramaian karena masih di suasana desa. Tempatnya pun di pojok desa. Semua fasilitas pun sudah lengkap. Air, listrik, kolam renang, dapur. Cukup bawa bahan makanan saja. 

Duduk-duduk di ruang tamu sambil menulis atau baca buku saat anak-anak asyik bermain bersama sepupunya membuat me-time semakin menyenangkan.

Plak!

Tapi itu hanya bertahan cuma sebentar. Selebihnya kembali ke dunia nyata. Karena begitulah tugas ibu tak pernah berhenti selama 24 jam. Kecuali kalau anak-anak tidur. Haha. 

Read More
Setiap berkunjung ke Blitar, biasanya sudah masuk jam makan siang. Tidak lupa kami menikmati kuliner khas Blitar yaitu soto Blitar. Sebenarnya hampir semua daerah memiliki kuliner soto akan tetapi cita rasanya tentu saja berbeda.

Mobil kami melewati jalanan kota Blitar yang lengang siang itu. Sepertinya kota Blitar selalu sepi di jam-jam siang. Apa suatu kebetulan? Karena setiap aku kesana, jalanan selalu sepi di siang hari atau mungkin berada di kawasan yang sepi? Sudah gitu, banyak jalanan di Blitar yang satu arah karena jalanan-jalanannya tidak terlalu lebar dan kotanya kecil. Jadi dalam waktu tidak sampai sepuluh menit, kami pun tiba di Soto Bok Ireng, tempat kuliner favorit di Blitar.

Sayang banget sih kalau tiap ke sana mesti lupa banget makanannya difoto.

Soto bok Ireng Blitar (foto: Google/Aditya Laziale)

Kami pun mencari parkir yang berada sebelum perempatan di sisi kanan jalan di depan ruko. Agak sulit karena tidak ada tempat parkir khusus mobil untuk pengunjung Soto Bok Ireng tersebut. Untung saja ada tukang parkir yang sigap mencari tempat parkir karena memang sulit sekali mencari tempat parkir di jalanan ini.

Soto Bok Ireng

Soto Bok Ireng ini merupakan salah satu kuliner legendari Blitar. Warung soto ini sudah berdiri sejak tahun 1940. Wow! Ternyata sebelum kemerdekaan. Bahkan bangunannya pun seperti dipertahankan juga keasliannya. Seolah kita benar-benar berada di warung tradisional zaman dulu.

Lokasi Soto Bok Ireng Blitar

Soto Bok Ireng Blitar berada di jalan Kelud, Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Lokasi warung soto legendaris ini sebenarnya sangat strategis karena berada di pusat kota dan tidak jauh daerah tempat tinggal keluarga suami. Hanya saja yang disayangkan tidak ada tempat parkir. Lokasinya dekat perempatan sebenarnya sedikit menyulitkan bagi kami yang bawa kendaraan roda empat. Tapi karena yang nyetir bukan aku, jadi masalah yang kusebutkan itu tak berarti hahaha.

Jam buka Soto Bok Ireng Blitar

Sayangnya beberapa kali kami ke Blitar, Soto Bok Ireng ini tidak selalu buka mungkin saat libur lebaran ya. Soto Bok Ireng ini buka setiap hari dari pukul 7 pagi hingga jam 2 siang. Jika sudah kesorean, kami terpaksa mencari warung soto Blitar lainnya yang bukanya malam. Selain di Soto Bok Ireng, kami juga biasa mengunjungi Soto Khas Blitar yang dekat dengan rel kereta dan searah dengan perjalanan pulang ke Malang.

Bangunan Warung Soto Bok Ireng Blitar

Bangunan warung soto Blitar ini sangat sederhana seperti toko jamu zaman dulu dengan model papan-papan kayu yang bisa dilepas. Warung ini yang dibangun dari kayu ini tidak seberapa besar tapi warung Soto Bok Ireng ini sangat terkenal di Blitar.

Di bagian luar warung, meja dan kursi panjang memakan hampir seluruh badan trotoar. Saat kami datang, masih ada pengunjung yang sedang menikmati kuliner Blitar tersebut. Kami duduk di sisi lainnya yang kosong.

Di bagian dalam tampak seorang wanita yang sibuk mengedarkan minuman kepada para pengunjung. Gelas-gelas dingin itu seolah menjadi penawar bagi kuah soto yang panas dan gurih. Kepulan asap putih tampak memenuhi ruangan warung yang tidak seberapa besar. Meja di dalam ruangan telah terisi beberapa pembeli yang sedang menikmati kuah hangat soto kemudian sedikit melirik kami yang datang dengan suara riuh anak-anak. Seorang penjual sedang duduk di depan panci kendi. Ia menyeduh kuah soto ke dalam mangkok-mangkok kecil dengan hati-hati. Kuah soto yang panas tak menggoyahkan sedikit pun pegangannya pada mangkok itu. Setelahnya, ia mengulurkan mangkok kecil yang telah panas itu pada seorang pengunjung lain yang telah menunggunya. Wajah pengunjung itu sumringah.

Soto Daging Bok Ireng Mau Jeroan, Campur atau Daging saja?

Setelah melayani pengunjung lainnya, penjual menanyakan pesanan kami. Setiap orang punya selera berbeda-beda. Ada yang memesan soto daging dengan jeroan, ada yang jeroan saja dan ada yang daging saja. Syukurnya semua dilayani penjual dengan baik meski kami yang banyak rombongan ini memesan soto yang berbeda-beda isinya. Hehhe.

Harganya pun sama sekitar Rp10.000,-. Untuk harga memang tidak bisa disamakan dengan soto daging di luar sana yang harganya selisih sedikit tapi dapat satu mangkok besar.

Soto Bok Ireng mangkok kecil (Google/SelaIntanOktavia)

Soto Bok Ireng ini memiliki ciri khas yang mungkin tidak ditemui di kota lain. Pertama, soto disuguhkan dengan mangkok kecil. Kedua, cita rasanya yang berbeda. Menurutku, soto di Blitar ini sedikit lebih manis ketimbang Soto Lamongan. Kuahnya lebih kental dengan rempah-rempah. Dagingnya juga tidak alot, meski di beberapa gigitan juga masih ada yang alot. Jeroan yang biasanya sulit dikunyah, seperti babat, juga masih bisa dikunyah.

Setiap makan di sini, satu mangkok tidak akan cukup. Seporsi mangkok kecil itu sudah cukup mengisi perut anak-anak dan juga aku yang porsi makannya tidak banyak. Sementara orang besar yang punya daya tampung perut lebih besar pasti akan menambah porsi. Hehe. Kuahnya yang panas cukup menghangatkan perut usai perjalanan yang panjang. 

Untuk minuman yang dijual di sini juga seperti warung makan lainnya seperti teh dan jeruk. 

Meskipun hanya mangkok kecil, alhamdulillah aku tidak kelaparan selama perjalanan pulang sampai waktu makan malam tiba. MaasyaAllah. 

Kalau kalian suka yang daging aja, jeroan aja atau daging aja?


Read More
Kedatanganku kali ini ke Blitar, setelah sekian kali berkunjung ke Bumi Bung Karno itu, aku menikmati sore hari di Alun-alun Blitar. Sebenarnya banyak tempat wisata Blitar yang bisa dikunjungi, tapi rasanya kami sudah terlalu lelah untuk berwisata, apalagi waktu itu momen idulfitri. 

Alun-alun blitar
Aloon-aloon Blitar (foto Google/ Darsehsri)

Sore hari, kami duduk di masjid dekat Alun-alun Blitar, tempat hiburan dan kegiatan masyarakat Blitar. Biasanya kami menunjungi alun-alun kota Blitar saat siang hari. Tidak ada pedagang, tidak ada penyewaan mainan dan lain-lain. Karena kami tiba di sana sore hari, banyak sekali persewaan mainan yang begitu menggoda iman anak-anak dan  dompet ibunya.

Aku lupa atas momen apa akhirnya aku bermain di Alun-alun Blitar bersama anak-anak dan para keponakan. Kalau tidak salah lebaran idul Fitri 2026.

Anak-anak tentu saja excited karena diizinkan bermain di Alun-alun Blitar. Mbah Yanto sudah berjalan ke arah alun-alun dan diikuti oleh cucu-cucunya. Para cucu itu berlari mengeluarkan sisa tenaga mereka yang rasanya masih maksimal. Tidak ada kata lelah di kamus mereka sementara aku rasanya ingin rebahan. 

Mertua dan suami sedang berbincang-bincang di masjid. Dengan suara merengek, si kecil menarik tanganku memaksa untuk ikut kakak-kakaknya. Siapa yang tak tergiur melihat kakak-kakaknya berlarian di lapangan luas sementara dia cuma diam di masjid? Aku mencari alasan untuk menolak karena aku lelah tapi.. setelah kupikir-pikir tak ada alasan untuk menolak. Hmm.. akhirnya aku bilang ke si kecil ikut mbah saja. Ia pun berlari mengejar untuk menyusul mbah dan kakak-kakaknya.

Aku menunggu di masjid sambil melamun, menatap aktivitas orang, scroll medsos atau mendengar obrolan ringan mertua. Tapi lama-lama kok sungkan juga ya membiarkan mbahnya menjaga para cucu yang banyak terutama bayi 4 tahunku.

Aku pun beranjak melawan rasa malas, menyebrangi jalanan yang diekspansi para PKL dan parkir kendaraan. Tak ada kendaraan yang ngebut jadi aman menyeberangi jalanan. 

Sore itu, alun-alun Blitar di sore hari tampak menyenangkan di mata anak-anak, dan sedikit menakutkan bagiku hahaa. Karena membayangkan harus merayu anak-anakku agar tidak memilih semua mainan saja susahnya ya Allah.

Alun-alun Blitar

Aloon-aloon Blitar
Pintu gerbang Aloon-aloon Blitar (Foto Google/Tommy Yohannes)

Alun-alun Blitar ini berada di pusat kota Blitar yang dikelilingi oleh pagar dan memiliki gerbang utama di bagian depan. Meskipun dibatasi oleh pagar, masyarakat bisa menikmati alun-alun Blitar selama 24 jam. 

Sejarah alun-alun Blitar tidak lepas dari zaman penjajahan Belanda. Mungkin juga hampir di seluruh wilayah di Jawa, konsep alun-alun menjadi bagian dari unsur yang wajib dibangun oleh pemerintah kolonial sebagai tempat berkumpul masyarakat. Alun-alun Blitar telah dibangun sejak abad ke-19 sesuai dengan konsep tata kota tradisional Jawa dimana biasanya dikelilingi dengan pusat aktivitas seperti pusat peribadatan (masjid), pusat pemerintahan (pendopo/kantor bupati), pusat ekonomi (pasar), dan pusat keramaian atau penjara. Mungkin zaman dulu banyak yang dipenjara kali ya sampai dikatakan pusat keramaian? 

Alun-alun Blitar ini didesain memang sedikit berbeda dengan alun-alun kota lainnya. Di tengah ada 1 saja pohon Beringin yang di 'kurung'. Ternyata sebelumnya ada dua pohon Beringin yang tumbuh di tengah kemudian mati dan berganti pohon Beringin yang baru. Kenapa dikurung? Kalau katanya sih sakral. Tapi menurutku biar tidak dirusak aja dan tetap tumbuh hingga lama.

Kemudian terdapat pendopo di sisi lainnya untuk tempat melakukan kegiatan. Tanaman tumbuh di pinggirnya menutup jalan jalur pejalan kaki yang terbuat dari semen. Jalur ini bisa dibuat untuk olahraga pagi atau sore. 

Melihat kawanan burung Blekok

Yang paling unik, di sekitar alun-alun Blitar ada pepohonan tinggi besar yang biasa dihinggapi burung kuntul atau burung blekok. Burung-burung ini berwarna putih dan besar seperti di area tambak. Kawanan burung blekok ini bertengger di pepohonan semakin menambah suasana sore di alun-alun Blitar menjadi lebih menyenangkan seolah kita sedang duduk menikmati keindahan alam.

Burung kuntul atau blekok di alun-alun blitar
Kawanan Burung Blekok di Alun-alun Blitar (Jawa Pos/M. Luki Azhari)

Tempat Wisata Kuliner

Mungkin memang tidak sebanyak kuliner di sekitar alun-alun Jember, Alun-alun Kidul Solo  yang penuh dengan kuliner di sekitarnya. Tidak juga seperti alun-alun Malang yang jalan dikit udah banyak wisata kuliner Malang. Tapi semakin malam semakin banyak yang berjualan di pinggir alun-alun dan juga di depan masjid. Meskipun street food yang dijual standar saja bukan kuliner khas Blitar. Kalau mau kuliner khas Blitar bisa makan soto khas Blitar dengan mangkok kecil.

Tempat hiburan keluarga

Hampir sama di semua tempat di mana permainan anak-anak menjadi satu daya tarik pengunjung. Alun-alun Blitar menjadi menarik ketika ada banyak wahana permainan anak-anak meskipun kita harus mengeluarkan uang. Jadi siap-siap aja. Ada banyak macam sewa permainan dengan harga per permainan sekitar 10-25ribu.

Bisa bermain mobil-mobilan

Setelah mengejar anak yang terus berlari-lari di alun-alun, aku melihat kakak-kakaknya dan sepupu-sepupunya bermain mobil ATV, mobil remote atau motor-motor mengelilingi bunderan pohon. Kebanyakan mereka memilih motor-motor.

Karena rata-rata usia yang bermain di atas 7 tahun, jadi bayangkan aja banyak anak cowok sekitar umur segitu menaiki kendaraan bermotor. Jiwa pembalap yang sepertinya selalu dimiliki anak lelaki pun keluar. 

Wahana permainan di alun-alun blitar
Ngikutin anak keliling-keliling kayak lagi tawaf wkwkwk (dok. Pribadi)

Dalam sekejap, lintasan dari semen di alun-alun Blitar menjadi arena 'banter2an' alias cepet-cepetan untuk anak-anak cowok. Sampai si pemilik motor berteriak, "WEE OJOK BANTER-BANTER!!!" (Hei jangan kencang-kencang)

Aku pun melihat dengan perasaan takut. Ngeri banget. Ya termasuk anakku sih. Hihi. Tapi ada satu lagi yang kelihatan lebih gua dari anakku yang kenceng banget kalau nyetir sampai hampir nabrak kendaraan lain.

Setelah ditegur pemilik sewa mobil-mobilan menegur, situasi jadi aman terkendali.

Bermain layang-layang

Satu hal lagi yang menyenangkan buat anak-anak di alun-alun Blitar adalah ada penjual layang-layang beraneka model. Harga layang-layang kalau tidak salah 25ribu. Agak mahal sih karena memang ada modelnya, bukan cuma ketupat gitu.

Saat aku mendatangi mereka setelah selesai menemani si bayi keliling naik mobil-mobilan, anak-anak sudah berhasil menaikkan layang. Padahal anak-anakku nggak pernah bisa menaikkan layang-layang waktu main layang-layang di tanah lapang Surabaya dekat tol Pondok Chandra (Pokcan)

Meski angin tidak terlalu kencang seperti di dekat tol Pokcan, tapi layang-layang justru bisa terbang. Katanya justru angin yang tenang itu yang bisa menerbangkan layang-layang.

Berlarian sak kesel e!

Namanya anak-anak pasti bakal hepi banget kalau udah berada di lapangan yang luas. Kayaknya mereka nggak nduwe (punya) kesel. Hanya emaknya aja yang ngelihat mereka udah kesel. Tapi emang alun-alun jadi tempat yang aman untuk berlarian. Tanahnya berumput jadi kalau jatuh pun tidak terlalu sakit, meski nampaknya juga sakit. Hehe.

Alun-alun Blitar, Tempat Kumpul Keluarga

Sebenarnya tempat wisata Blitar ini cukup banyak apalagi Blitar kota masa kecil Bung Karno m dan juga makam Bung Karno. Tapi berkali-kali ke Blitar kami belum pernah ke Istana Gebang karena emang waktunya mepet sekali dan udah capek duluan. Mungkin lain waktu...
Read More

Follower