Berbicara tentang Eiffel rasanya tak bisa habis-habis. Kalau sebelumnya ngebahas Eiffel dari Champs-de-Mars dan saat naik vedettes sambil menyusuri Sungai Seine, kali ini aku ngebahas menikmati Eiffel dari Place du Trocadéro, tempat pertama kali melihat Eiffel. 

Akses turun stasiun paling bagus pemandangan

Stasiun turun untuk pergi ke menara Eiffel memang cukup banyak. Ada stasiun Trocadéro, Champs de Mars-Tour Eiffel, dan Bir-Hakeim. Sebenarnya stasiun  paling dekat ke menara Eiffel adalah Champs de Mars tapi hanya bisa diakses dengan kereta RER C, tidak ada kereta métro. Kalau mau naik kereta métro, turun di Bir-Hakeim. Keluar stasiun kita sudah melihat kaki Eiffel. Dan stasiun Bir-Hakeim dan Champs de Mars ini sebenarnya saling menyambung.

Kalau aku lebih sering naik métro Line 6 turun di Trocadéro. Alasannya, line 6 melewati jembatan dengan pemandangan menara Eiffel yang bikin hati melelehhh. Métro Line 6 ini menjadi métro paling banyak di atas tanah (bukan bawah tanah) dan menikmati pemandangan keren.

Eiffel dari dalam métro line 6 (dok. Pribadi)

Setelah keluar stasiun Trocadéro, kita akan berjumpa dengan Place du Trocadéro, ruang terbuka sebeljm melihat pemandangan menara Eiffel. Kemudian kita berjalan kaki sedikit dan sudah lihat Eiffel dari kejauhan.

Place du Trocadéro

Place du Trocadéro ini merupakan ruang terbuka dekat Palais de Chaillot yang sekarang dimanfaatkan sebagai museum. Di antara Palais de Chaillot ini dibuat jalan atau ruang terbuka di mana banyak turis berfoto dengan pemandangan menara Eiffel. 

Tentunya, dengan pedagang gantungan kunci yang khas dan unik berkulit hitam karena bisa menawarkan gantungan kunci dengan bahasa Indonesia. Hehe. Meskipun yaa harganya agak mahal ya...

Dan sebagai orang Asia, mereka sangat tahu dan terus mendekati kami. Kalau misal aku dan teman-teman tidak pandai menolak, dan tampak jadi turis, kami akan dikejar terus dan dipaksa agar kita luluh membeli barang dagangannya. Jadi kami harus mengandalkan senjata kami yaitu berbicara bahasa Prancis, biar nggak ditawai gantungan kunci.

Oiya di sini juga ada orang yang suka pasangkan gelang. Katanya charity. Tapi hati-hati yaa karena kalian akan diminta uang dan dikejar terus-terusan. Jadi jangan sungkan untuk menolak. 

Tempat ini menjadi tanah yang lebih tinggi daripada Eiffel. Bisa dibilang bukit Trocadéro. Kalau kita jalan menuju Eiffel, kita harus menuruni tangga dulu. Biasanya di tangga ini juga tempat orang berfoto-foto.

Nah, karena di sini banyak turis, banyak juga petugas keamanan atau Gendarmérie dengan pakaian militernya dan senjatanya berjaga-jaga di sekitar Trocadéro.


Pernah suatu ketika, saat aku kunjungan ke sana, aksi protes karikatur Charlie Hebdo yang menistakan Nabi Muhammad SAW sedang gencar-gencarnya. Para pendemo ini berkumpul dan menyuarakan keresahannya di jalan raya. Mungkin dilakukan di sini karena banyak turis. Tapi toh turis tetap berfoto-foto dengan latar Eiffel tanpa merasa terancam.

Di depan mataku, seorang perempuan berjilbab digiring petugas Gendarmérie keluar dari Trocadéro. Seorang pria dengan bersuara lantang juga digiring petugas keluar dari Trocadéro. Agak sedih sih karena kayak nggak dihargai aja gitu.. 


Jadi kebayang gimana gelombang protes yang terjadi hari ini sampai mengakibatkan kericuhan.

Setelah agak lama, kondisi pendemo mulai tenang. Turis lebih merasa aman.

Tempat paling puas berfoto dengan latar Eiffel

Dari Trocadéro menjadi tempat paling puas berfoto dengan latar Eiffel dengan taman dan air mancurnya, dari tengah maupun dari atas tangga. Tapi juga jadi tempat paling ramai sama turis. Jadi pasti akan rebutan untuk berfoto. Hehe.. 

Pertama foto di sini kayak tanpa persiapan. Baju seadanya. Nggak expect macem-macem. Ngelihatnya kayak capek sendiri jadinya nggak mood foto-foto saat pertama ke sini. 


Dan saat musim gugur juga rameeeee.

Aku ke sana selalu siang atau malam. Nggak pernah pagi-pagi sih. Mungkin lebih bagus kalau pagi kali ya. Sepi...

Malam hari, saat aku dan teman-teman datang ke sana pun ternyata rameeeeee. MaasyaAllah. Cahaya dari kamera-kamera tiap turis dan cahaya dari menara Eiffel membuat sekitar jadi cukup terang. Meski pun ramai, kami tetap berfoto-foto. 


Pas salju turun juga menjadi waktu paling epic buat mengambil foto. Selain jarang yang ambil foto di sini karena dingiinnn, berfoto dengan latar Eiffel saat salju turun juga tampak berbeda. Menara Eiffel tampak samar tidak seperti biasanya. Eiffel terlihat beda dan bikin hati melelehhh. 

Foto di taman dan air mancur

Foto di taman dan air mancur depan Palais de Chaillot juga keren. Tampak Eiffel yang menjulang dan taman yang indah.

Saat musim panas, taman air mancur ini kayak daweeettt aja. Banyak orang duduk-duduk di taman dan di pinggir kolam. Aku justru nggak nyaman di tempat terlalu ramai. Lagi-lagi kita akan sulit mencari tempat spot yang sepi saking ramainya. Memang lebih nyaman berfoto dari Champs de Mars aja. 

Musim gugur, pengunjung belum ramai (dok. Pribadi)

Waktu yang paling baik dan sepi ya saat salju turun dengan deras atau saat salju sudah berhenti dan masih ada sisa sedikit salju. Di musim itu, turis sedikit. Paling mahasiswa macam aku yang jarang lihat salju aja yang kelihatan hehe.


Musim dingin di Trocadero (doc. pribadi)

Di taman depan Trocadero (dok. pribadi)

Di dekat tangga di Trocadero (dok. pribadi)

Turun tangga dari Trocadero (dok. pribadi)


Di air mancur depan Trocadero (dok. pribadi)

Waktu terbaik?

Jadi kapan waktu terbaik saat berfoto dengan latar Eiffel? Kapan waktu sepinya?

Jawabannya saat musim dingin dan salju turun karena sepi pengunjung. Haha. Tapi resikonya transportasi umum bisa saja berhenti operasional sementara karena jalanan penuh salju. 

Tapii kan nggak mungkin banget ke Paris pas salju lagi deres-deresnya. 

At least saat musim gugur. Tapi yaa berfoto di Trocadero nggak pernah sepi. Apalagi musim panas... pengunjung lagi rame-ramenya. Yah diterima aja dengan ikhlas. Hehehe.

Kalau pun mau foto saat sepi, coba saat pagi-pagi sekali. Saat orang-orang masih terlelap. Hehe. Karena tengah malam pun juga masih ramai.

Alhamdulillah Allah kasih kesempatan padaku bisa merasakan berfoto di depan Eiffel di segala musim. Tetap, pemandangan terbaik yaitu saat musim dingin berfoto di depan Eiffel.


Read More

Wisata ke Paris, pastinya selain berfoto di depan menara Eiffel juga berfoto di depan Arc de Triomphe. Salah satu destinasi wisata di Paris ini emang agak susah sih cari spot foto. Sebenarnya ada satu spot foto yang biasa para turis berfoto. Cuma rame banget kecuali kalo pagi-pagi yaa. Kalau di Gumul Kediri kan ada lima simpangan. Kalau di Arc de Triomphe ini ada 12 simpangan jalan. Banyak bangeetttt. Bayangkan kalau nyetir mobil di Arc-de-triomphe harus keliling dulu sebelum masuk ke salah satu jalan dari 12 simpangan. Hehehe.

Aku berfoto di depan Arc de Triomphe ini pada beberapa kesempatan. Pertama, sebelum naik ke atas monumennya di siang hari. Kedua, saat pasar Natal (marché de Nœl) di malam hari. Ketiga, saat nonton Tour de France sampai perayaan kemenangannya dari sore sampai malam hari. 

Yang aku ceritakan sekarang adalah saat aku mengunjunginya pertama kali di siang hari.

Arc de Triomphe

Dalam bahasa Prancis, arc ini artinya busur (berbentuk melengkung) tapi akan berubah arti ketika disandingkan dengan kata lain. Seperti arc-en-ciel di mana 'en' artinya 'di' dan 'ciel' artinya 'langit'. Jadi maksudnya 'busur di langit'. Kira-kira ada yang tahu busur di langit itu apa? 
Yap. Pelangi.

Nah kalau arc de triomphe ini, arti triomphe adalah kemenangan. Kalau digabung adalah busur kemenangan, tapi bukan busur dalam memanah yaaa tapi sebuah Monumen yang disebut dengan Gapura Kemenangan.

Sejarah Arc de Triomphe

Arc de triomphe ini dibangun pada tahun 1806 dengan gaya Neoklasikisme untuk mengenang kemenangan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte atas pertempuran Austerlitz.

Arc de triomphe ini berada di Place d'Étoile di ujung jalan Avenue Champs-Élysées, sebuah jalan terkenal dengan lagunya Champs-Élysées. Tingginya 49,5 meter.

Selain itu, Arc de Triomphe dibangun secara garis lurus dari pusat kota Paris ke barat, seperti sebuah sumbu X (axe historique), pada monumen-monumen terkenal lainnya, dan menjadi poros bersejarah di Paris atas kemenangan-kemenangan di masa lalu. Poros bersejarah ini membentang di ujung barat La Défense, sepanjang Avenue Champs-Élysées, Place de la Concorde dan di ujung timur ada Jardin de Tuileries.


Akses Menuju Arc de Triomphe

Ketika masih awal-awal kuliah, aku masih tinggal dekat Gare de Lyon, salah satu stasiun utama dan besar di Paris. Nggak cuma métro (kereta bawah tanah jarak dekat) saja tapi juga RER (kereta jarak jauh), biasanya kereta cepat antar negara juga lewat stasiun ini. 

Kalau mau ke Arc de Triomphe, aku turun di stasiun Charles de Gaulle-Étoile yang ada métro dan RER. Aku lebih suka naik RER karena kereta lebih besar, ada dua tingkat, lebih cepat karena nggak berhenti di banyak stasiun kecil, meskipun harganya memang lebih mahal. 

Karena aku mau lebih cepat sampai, aku pilih naik RER di Gare de Lyon meski aku harus jalan kaki dulu sekitar 10 menit.

Tapi kalau naik métro, dari stasiun dekat apartemenku naik Line 1. 

Turun di stasiun Charles de Gaulle-Étoile ini dilewati RER, Metro Line 1, 2, dan 6.

Kunjungan pertama ke Arc de Triomphe

Kunjungan pertamaku saat beberapa pekan tiba di Paris. Lagi-lagi temanku mengajak pergi ke sana. Karena emang kami tuh rombongan mahasiswa Indonesia yang biasanya janjian kalau mau jalan-jalan keliling Paris, hehe. Biar nggak sendirian gitu di tempat asing.

Waktu itu siang hari, meski masuk musim gugur tapi matahari masih cukup terik. 

Aku dan teman-teman janji bertemu di stasiun Charles de Gaulle-Étoile. Pintu keluar Champs Élysées jadi pintu keluar dengan pemandangan terbaik. 

Dari jauh sudah tampak Arc de Triomphe yang berdiri megah. Di tengahnya, bendera biru-putih-merah berkibar. 

Begitu bertemu teman-teman, kami berjalan kaki di pedestrian yang lebar dan ramai dengan turis. Oiya, untuk masuk ke Arc de Triomphe ini lewat terowongan bawah tanah Passage du Souvenir dari Champs-Élysées. 

Pintu masuk terowongan bawah tanah menuju Arc de Triomphe (dok. pribadi)

Aku memperhatikan monumen Arc de Triomphe yang sudah berdiri berabad-abad silam. Meski tampak hanya beton abu-abu, Monumen itu tampak kokoh seperti menunjukkan barisan pasukan Napoleon yang kokoh di zaman dulu. 

Ukiran patung yang ada di dindingnya memberi suatu makna yang aku juga tidak paham yaa gessss.. hehhe.. Di bagian atasnya, ukiran-ukiran cukup detail. 

Saat berjalan ke tengah, di tengahnya api menyala-nyala melambangkan semangat jangan para pahlawan yang membela Prancis.

Beberapa ikat bunga segar dan berwarna diletakkan di atas tanah bertuliskan "Di sinilah tempat prajurit patriot bangsa bersemayam" saat Perang Dunia I.

Aku dan teman-teman mencari pintu masuk untuk naik ke atas. 

Untuk tiket seingetku sih gratis yaaa karena aku masih usia 24 tahun. Kalau aku lihat sekarang harga tiketnya 16-22 euro tergantung bulan.

Sayangnya tidak ada lift jadi kita harus naik tangga menuju ke lantai 1 dan 2. Tangganya pun kecil berbelok-belok seperti escargot, makanan khas Prancis, atau siput, jadi harus antri. 

Tangga menuju lantai atas Arc de Triomphe (dok. pribadi)

Di ruangan lantai 1 ini berisi tentang sejarah pembangunan sampai miniatur Arc de Triomphe.


Di depan miniatur Arc de Triomphe (dok. Pribadi)

Selanjutnya, kami naik ke lantai paling atas. Di sana sudah ramai orang. Matahari cukup terik. Tapi justru waktu yang tepat untuk melihat pemandangan Paris dari atas. 

Aku bisa melihat deretan bangunan yang indah dengan jalanan Avenue Champs Élysées yang dipenuhi barisan pepohonan hijau, orang yang berjalan kaki dan kendaraan yang berlalu lalang.

Di sudut lainnya pemandangan hampir sama tetapi di ujungnya tampak bangunan tinggi kompleks pusat bisnis dan komersial La Défense.

Jalan yang menghubungkan dengan La Défense di arah barat (dok. Pribadi)

Avenue Champs Élysées yang ramai dengan pejalan kaki. Pedestrian yang luas. Barisan pepohonan yang hijau dan indah. Bangunan yang tidak berlomba ketinggian. Kendaraan yang teratur. (Dok. Pribadi)

Di sudut lain, pemandangan yang paling menakjubkan bagiku adalah melihat menara Eiffel dari atas Arc de Triomphe. MaasyaAllah. Eiffel terasa tampak dekat menjulang di antara bangunan Paris. Di akhir masa tinggalku di Paris, Allah beri kesempatan bisa naik ke puncak menara Eiffel dan melihat Arc de Triomphe dari atas Eiffel.

Eiffel Tower dari Arc de Triomphe (dok. Pribadi)

Rasanya seperti mimpi aku bisa berdiri di sini. Aku tidak tahu alasan apa Allah mewujudkan impian bisa sekolah lanjut di Eropa. Bahkan di Paris. Kota yang bikin hati orang meleleh. 

Saat aku berdiri di sana, aku tidak terpikir apa pun tentang masa depanku akan jadi apa. Aku hanya berpikir bagaimana kuliahku besok, apakah aku bisa mengikutinya? Bagaimana teman-teman di kelakuan melihat aku berjilbab? Apakah aku mendapatkan diskriminasi? 

Ketakutan-ketakutanku itu segera aku tepis ketika temanku mengajakku berfoto. 

Cekrek!

Kami : Mas bayu (alm), Mba Nia, Kak Tiara, Mbak Ulfa (di depan), di lantai atas Arc de Triomphe (dok. Pribadi)

Tapi aku tahu takdir Allah itu baik. Meski sekarang Allah belum izinkan aku jadi dosen. InsyaAllah perjuanganku di Paris berbuah baik.

Oiya, next aku cerita kisah lain di Arc de Triomphe saat ke Marché de Nœl dan nonton Tour de France.

Duduk dulu di terowongan bawah tanah saat pulang (dok. pribadi)

Read More

Baru dua pekan di Paris, temanku sudah mengajak untuk mengunjungi rumah Victor Hugo atau Maison de Victor Hugo, rumah milik sastrawan Prancis abad ke-19. Aku sama sekali nggak kepikiran mau ke rumah sastrawan terkenal itu karena emang aku belum ada rencana menjadi penulis. Bayang-bayangku lebih banyak mengarah ke dosen, profesi yang aku inginkan dari dulu, yang mungkin sekarang tidak lagi aku kejar.

Ketika aku banting stir jadi penulis, ada rasa sesal mengapa aku tidak mengunjungi rumah para sastrawan Prancis, seperti Shakespeare, Balzac, Alexandre Dumas. Atau setidaknya, membeli salah satu novel Prancis (well, beli novel di sana bisa buat makan 2 hari. Aku justru beli buku tentang perkuliahan 100an euro. Yang akhirnya gak kepake sekarang. Hiks.)

Siapa, sih, Victor Hugo?

Saat ke sana, aku sedikit tahu tentang Victor Hugo, seorang penulis Les Misérables atau Orang-orang Malang (eh, tak ada kaitannya ya sama asal keluarga suami dan tempat aku kuliah wkwkw).

Victor Hugo adalah seorang sastrawan Prancis terkenal yang menghasilkan karya berupa novel, puisi, naskah drama. Ia lahir tahun 1802 di Besançon dan meninggal pada tahun 1885 di Paris. Ia dimakamkan di Panthéon di mana banyak tokoh penting dimakamkan di sana. 

Awalnya dia sukses dengan novelnya berjudul Notre-Dame de Paris tahun 1831 kemudian lebih terkenal lagi adalah novelnya Les Misérables tahun 1862. Artinya di usianya yg ke-29, ia sudah menghasilkan karya Notre-Dame de Paris yang mendunia. Tak banyak penulis di usia muda yang bisa menghasilkan karya luar biasa seperti Victor Hugo. Dan di usia 59, Les Misérables juga dikenal hingga saat ini. 

Bisa dibilang, setiap tahun Victor Hugo menghasilkan karya seperti puisi, naskah drama, dan novel. Sepanjang hidupnya, Victor Hugo menghasilkan 5 prosa, 6 naskah drama dan 5 puisi.

Dari biografi singkatnya, aku jadi paham bahwa menghasilkan sebuah karya yang mendunia dan longlasting itu butuh waktu, tidak hanya 3 bulan selesai. Memang, seorang penulis harus sabar menjalani prosesnya. Dan Victor Hugo membuktikannya.

Maison de Victor Hugo

Aku turun di stasiun metro Bastille, metro paling dekat dengan lokasi Maison de Victor Hugo yang berada di arrondissement 4 (seperti kecamatan gitu). Metro yang berhenti di stasiun Bastille ini ada Line 1, 5, 8. 

 Monumen Bastille di Place de la Bastille. Monumen ini dibangun untuk memperingati Revolusi Prancis tahun 1830 ( Three Glorious Days ), bukan untuk Revolusi Prancis 1789 (penyerbuan penjara Bastille). Di dekat sini ada penjara Bastille tapi sudah dihancurkan (dok. pribadi)

Setelah bertemu dengan teman di pintu keluar stasiun, kami berjalan menuju lokasi. Tibalah di sebuah bangunan tingkat nan cantik dan khas berwarna merah bata dengan banyak jendela dan atap tinggi. Orang berlalu lalang lewat jalan di bawah bangunan itu. Kami pun berjalan ke sana. 

Menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi)

Bangunan itu ternyata mengelilingi sebuah taman Place des Vosges, sebuah ruang terbuka hijau yang cantik dan banyak dinikmati orang-orang Paris. Memang, mereka sangat suka berjemur sambil mengobrol atau membaca buku. Tapi, kalau aku nggak akan mau berjemur kayak mereka soalnya kulitku udah eksotissssss..


Place de Vosges, tempat bersantai saat cuaca sedang sejuk (dok. pribadi)

Siang Hari di Maison de Victor Hugo

Sebenarnya siang itu tidak terlalu panas meski masuk musim gugur, terik jam 2 siang tetap saja bikin gerah (gerah tapi tetep adem sih). Orang-orang tampak ramai. Kami berada di koridor bangunan bertingkat berwarna merah bata itu. Di lantai dasar, bangunan itu dimanfaatkan menjadi toko. Beberapa penjual lukisan juga tampak membeberkan lukisannya di sepanjang koridor bangunan.   

Jalan menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi)

Kami menyusuri koridor dan melewati pengunjung lainnya, mencari rumah Victor Hugo di mana. Aku tidak tahu persis. Sepertinya temanku lebih paham. Tak lama, kami tiba di depan sebuah bangunan dengan nomor 6. Tampak plakat bertuliskan Maison de Victor Hugo. Kami pun berhenti. 

Dua orang petugas berjas hitam yang rapi sedang menunggu pengunjung di depan pintu masuk. Aku tidak begitu ingat berapa tiket masuk Maison de Victor Hugo. Apakah gratis atau berbayar? Untuk bagian ini aku tidak ingat sama sekali.

Tapi kalau lihat di websitenya Maison de Victor Hugo, harga tiket masuknya 11 euro. Pembelian juga bisa online. 

Pintu masuk (dok. pribadi)

Kami kemudian menaiki tangga kayu tampak dipertahankan keasliannya dengan pegangan besi menuju lantai 2 di mana Victor Hugo pernah tinggal. Beberapa bagian rumah ini memang sudah direnovasi tapi beberapa bagian masih dipertahankan.

Ruang- ruang Kehidupan Victor Hugo 

Perjalanan kehidupan Victor Hugo melewati masa-masa krusial sebuah negara. Ia merasakan kehidupan ketika terjadi Revolusi Prancis. Ia harus merasakan di tempat pengasingan akibat perlawanannya pada Napoleon Bonaparte. Maison de Victor Hugo ini menjadi museum yang menyimpan sejarah Victor Hugo dari sebelum pengasingan, saat pengasingan hingga setelah pulang dari pengasingan.

Pada ruang pertama, tampak potret keluarga dan masa muda Victor Hugo yang berupa lukisan sebelum di pengasingan. 

Ruang pertama (dok. pribadi)

Berjalan di ruang kedua, dindingnya berwarna merah muda. Di ruangan ini menjadi tempat pertemuan seniman, sastrawan, tokoh politik di rumah tokoh yang jadi panutan pada gerakan romantisisme abad 19, sebuah gerakan sastra yang mengedepankan emosi manusia, penderitaan, ketidakadilan sosial dan perjuangan memperoleh kebebasan, yang tampak pada karyanya Les Miserables dan Notre Dame de Paris. 

Mungkin itulah mengapa dindingnya berwarna merah muda karena erat kaitannya dengan gerakan tersebut. Di ruang inilah, karya sastra Hugo dipamerkan disebuah meja kaca. Tampak kertasnya yang kecoklatan dan tulisan tinta yang masih bertahan tidak meluber. Aku lupa apa itu Les Misérables atau bukan.

Ruang kedua (dok. pribadi)

Di ruangan ini, koleksi seni di sebuah ruangan menggambarkan status sosial, perjalanan karier, dan hubungan Victor Hugo dengan keluarga kerajaan Prancis. Di dindingnya terdapat lukisan keluarga Victor Hugo yang menggambarkan keluarganya. 

Patung dada dari marmer itu menunjukkan bahwa ia menjadi penyair yang dihormati. Lukisan kisah Ines de Castro menunjukkan bahwa Victor Hugo punya hubungan erat dengan keluarga kerajaan di Orleans. Lukisan lainnya berhubungan dengan karya sastra yang ia tulis.

Di ruangan selanjutnya, sebuah ruang kerja Victor Hugo memberi arti yang cukup mendalam buat Victor Hugo. Tak hanya karirnya menjadi penulis terkenal tetapi juga kehidupan personalnya dan kedukaannya. Kesuksesannya menjadi penulis terlihat pada lukisan, patung dan peninggalan meja untuk menulis, tetapi juga lukisan kedua cucunya. 

Ini mengingatkan akan karyanya L'Art d'etre Grand Pere (Seni Menjadi Kakek) dan menjadi bentuk kasih sayang pada cucunya yang sudah ditinggal oleh kedua orang taunya (meninggal). Ada juga lukisan kekasihnya (belum menemukan sumber yang bilang istrinya) yang dibuat beberapa bulan sebelum meninggal.

Bersama cucunya? (dok. pribadi)

Yang paling unik, Victor Hugo ini memiliki kebiasan tidak dilakukan penulis lainnya, yaitu menulis di mejanya sambil berdiri. Meja itu dibuat lebih tinggi dari meja biasanya. Tingginya sekitar 155 cm.

Di ruang kamar, yang berwarna merah terang dan mewah ini menjadi tempat Victor Hugo beristirahat. Kamar tidurnya direkonstruksi ulang meyerupai kondisi aslinya selama masa pengasingannya. Dindingnya seperti dilapisi kain berwarna merah, atap langitnya dilukis indah, dan lantainya dari kayu ditutupi karpet. 

Sebuah kaca besar dan lemari kayu tampak menghiasi ruangan itu. Sofa merah empuk di tata di depan tempat tidur. Perabot vas-vas keramik di kamar itu merupakan pemberian pemerintah Sevres sebagai hadiah ulang tahun Victor Hugo yang ke 79 dan 80. Victor Hugo mengembuskan nafas terakhir di kamar ini. 

Kamar Tidur Victor Hugo (foto dari www.maisonsvictorhugo.paris.fr, soalnya dari kameraku ternyata blur)

Kita masuk ke ruangan makan yang desainnya sangat ramai. Maksudnya tidak seperti kebanyakan rumah dengan cat polos. Di ruang makan, dinding dan lantainya bergambar dedaunan musim gugur. Perabotan bergaya gothik mewarnai ruangan makan khas keluarga kerajaan yang biasa kita lihat-lihat di televisi.

Ruang makan Victor Hugo (www.maisonsvictorhugo.paris.fr)

Di ruangan ini ternyata tak hanya sekedar ruang makan, tetapi lebih dalam dari itu. Ruangan ini menunjukkan kreativitas dan imaginasi Hugo yang dituangkan dalam banyak karya. 

Selama pengasingan, Hugo punya ketertarikan unik, yang lebih ekstrim dari sekedar kolektor barang gothik. Yap, selain suka melakukan "perburuan peti tua", Hugo suka mendesain ulang barang gothik menjadi barang baru. Dari pintu menjadi meja, dari peti tua menjadi bufet/bangku, dari gulungan benang jadi tempat lilin.

Bahkan benda furnitur bisa menjadi bentuk kasih sayang Hugo, meja yang digunakan Hugo untuk menulis karya puisinya, La Légende des Siècles, diberikan kepada Juliette Drouet. 

Selama masa pengasingan itu, Victor Hugo menghasilkan karya La Légende des siècles (kumpulan puisi), Les Misérables (novel), Les Travailleurs de la mer (novel).

Di ruangan lain yang terhubung melalui pintu yang terkoneksi, aku melihat dua sisi Victor Hugo yang berbeda. Agak aneh melihat banyak koleksi keramik yang tampaknya dari Asia, berbeda dengan ruangan lain yang banyak barang gotik. Penataan barangnya pun rapi. Barang-barang di ruangan ini menjadi saksi Victor Hugo saat masa pengasingannya di Guernsey. Rupanya, selain menulis, Hugo juga memiliki bakat dan minat lain sebagai desain interior. Hugo mendesainnya seperti panel bergaya Tiongkok. 



Di ruangan ini juga ada meja rias Madame Hugo dan kursi-kursi. Di sebuah kotak terdapat empat tempat tinta milik Lamartine, Dumas, Sand, dan Hugo. Ada pemanas ruangan klasik yang masih memakai kayu bakar.

Sepertinya setelah ruangan ini masih ada ruangan lain tapi sudah bagian belakang dan sudah selesai tur di rumah Victor Hugo. Aku nggak punya foto-fotonya lagi. Sekarang kalau lihat di websitenya, ada perpustakaan di lantai 3 yang mengarah ke Places des Vosges. 

Sepulangnya dari rumah Hugo, aku dan temanku mengunjungi Place des Vosges.




Kunjungan Singkat Tapi Bermakna

Bagiku dulu kunjungan singkat ini tak berarti apa-apa. Ternyata setelah aku menuliskannya, banyak hal yang aku luput dan tidak kuketahui saat berkunjung ke sana. Memang harusnya baca-baca dulu, baru datang langsung.

Bagiku, pergi ke rumah Hugo tak hanya melihat benda-benda bersejarah saja, dengan menuliskannya aku memahami bahwa proses menulis novel atau puisi itu butuh waktu yang lama dan butuh kesabaran. Dan aku rasa menghasilkan karya yang fenomenal haruslah lahir dari tempat "keterasingan", jauh dari hiruk pikuk. Mungkin kalau melihat kondisiku, bisa menulis di tempat yang sepi, tidak banyak distraksi. Lebih tepatnya malam hari. Kalau punya ruang khusus sih oke yaa tapi aku sekarang masih menulis di kamar aja. Semoga kelak bisa punya ruang kerja sendiri biar lebih terasa yaa "pengasingannya". Hehe

Read More
Salah satu list wisata wajib di kota Paris yang baru kulakukan sebelum kepulanganku ke Indonesia adalah wisata perahu sungai Seine Paris. Sama seperti yang sudah aku ceritakan di artikel saat naik menara Eiffel, aku masih menunggu sisa-sisa uangku hehe. Selain itu, menurutku, naik kapal pesiar di sungai Seine Paris di musim panas adalah waktu yang tepat. Meski ramai dengan turis tapi tidak terkendala dengan cuaca.

Kali ini, aku tidak sendirian. Aku bersama teman dari Indonesia yang kuliah di Sorbonne dan juga sudah selesai. Masih di bulan ramadan, kami menyusuri sungai Seine dengan kapal pesiar.

Seine River Cruise

Setiap kali aku berkunjung ke Eiffel, melihat kapal-kapal berlalu lalang di Sungai Seine yang melewati menara Eiffel bikin aku mupeng. Wisata ini memang menjadi atraksi yang paling menarik bagi turis mancanegara. Tapi aku belum ada rencana naik kapal keliling sungai Seine karena yaaa aku nggak mau terlalu cepat membuang uangku wkwkwk. .

Seine River Cruise ini sebenarnya ada tiga jenis kapal yaitu Vedettes (baca; Vedet), Bateaux Mouches (baca: bato mush) dan Bateaux Parisiens (baca: bato parisiang). Perbedaan Vedettes, Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens terletak pada harga, luas kapal, fasilitas yang ditawarkan dan lokasi naik dan turunnya.

Vedettes du Pont Neuf, Bateaux Mouches, Bateaux Parisiens

Perjalanan menyusuri sungai Seine dengan naik kapal Vedettes dimulai dari jembatan Pont Neuf, jembatan tertua di Paris. Bateaux Mouches dimulai dari Pont de l’Alma, yang lebih dekat ke menara Eiffel. Bateaux Parisiens dari kaki menara Eiffel.

Bateaux-Mouches (seinerivercruise.com)
 
Bateaux Mouches ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1867, Cuma sempat redup dan dihidupkan kembali tahun 1949. Vedettes ini sudah beroperasi sejak tahun 1976. Bateaux Parisiens dibangun dan mulai beroperasi tahun 1956. MaasyaAllah ternyata pariwisata mereka itu udah sejak zaman dahulu. Kepemilikannya pun berbeda-beda.

Ukuran kapal Vedettes lebih kecil dan ramping dibanding Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens. Jika dua kapal Bateaux ini bisa menampung hingga 700 wisatawan, maka Vedettes ini hanya bisa menampung sekitar 30an wisatawan. Bayangin aja naik kapal dengan jumlah wisatawan sampai 700 an. Pasti ramai bangeetttt.

Vedettes de Pont Neuf 

Vedettes berfokus pada wisata ya, sedangkan Bateaux menyediakan paket mewah untuk makan siang dan malam dengan musik pengiring. Jadi kalau kalian mau berfoto Eiffel di atas kapal sambil dinner atau makan siang bisa naik Bateaux.

Harga tiket Vedettes dan Bateaux sama aja kecuali kalau tambah makan.

Harga tiket kapal keliling Sungai Seine

Qodarullah, di akhir masa tinggalku di Prancis, aku punya kesempatan naik kapal pesiar keliling sungai Seine. Menurutku, musim panas menjadi momen paling pas mengelilingi Paris. Nah karena aku cari yang murah, yang penting bisa naik kapal keliling sungai Seine, melihat Eiffel dari atas kapal, dan nggak terlalu ramai, jadi aku ambil Vedettes.

Vedette du Pont Neuf
Penumpang antri sebelum naik Vedettes (dok. pribadi)

Tiket Vedettes dan Bateaux kalau keliling aja sekitar 17 euro, tapi kalau makan bisa antara 60-100 euro, udah hampir seharga biaya makanku 2 pekan di sana. 

Tanpa pakai pikir panjang, aku langsung mengiyakan naik vedettes dengan tiket 17 euro doonggg, bukan yang dinner wkwk. Btw, waktu awal-awal di sana, aku suka konversikan ke rupiah, jadinyaaa mahall dan ujung2nya nggak beli. Kalau aku tetep begitu, bisa-bisa batal naik kapal. Hehe.

Menyusuri Sungai Seine dengan Vedettes

Aku mencari tempat duduk di lantai dua tanpa atap. Dengan begitu, kita bisa melihat pemandangan dari atas kapal tanpa ada penghalang. Pengunjung lain pun juga duduk di bagian lantai atas kapal. Kursi-kursi di susun menghadap depan dengan dua bagian kiri dan kanan. Kursinya berdempetan. Aku dan temanku memilih kursi di bagian belakang kapal.

Tak lama, kapal berjalan pelan terus menuju ke tengah sungai. Seorang pemandu wisata berdiri di bagian depan dan menghadap pada wisatawa. Ia menjelaskan sejarah dalam bahasa Prancis dan Inggris. Sayangnya, karena berada di tempat yang ramai, suara terdengar putus-putus.

Kami melewati berbagai bangunan bersejarah di kanan dan kiri. Landmark ikonik Paris sangat menarik seperti Musée d'Orsay, Museum Louvre, Katedral Notre-Dame, dan jembatan-jembatan bersejarah lainnya.




Pont Alexandre III, Jembatan Favoritku soalnya keren. Plis abaikan orang di belakang (dok. Pribadi)

Pont Alexandre III, jembatan favorit (dok. pribadi)

Eiffel Tower
Eiffel dari atas kapal (dok. pribadi)

Aku menikmati perjalanan cruise. Sampai di menara Eiffel sekitar 10 menit kemudian. Guide tetap menjalankan misinya untuk terus menjelaskan tentang apa saja yang mereka lewati. Aku sibuk memotret apa saja seolah tak ingin melewatkan sedetik pun apaan pun yang ada di sana. 

Kapal sempat memelan. Para turis mulai berfoto dengan latar Eiffel. Aku juga tidak ingin melewatkan kenangan indah dengan memotret Eiffel dari kapal. 

Selanjutnya kapal berjalan dan berputar balik tak jauh dari Eiffel. 

Jembatan dekat Notre-Dame (dok. pribadi)

Kapal berjalan mengarah ke Notre Dame (dok. Pribadi)


Conciergerie Paris
Conciergerie, penjaranya Marie Antoinette (dok. pribadi)

Biasanya saat musim panas ada Paris Plage, pinggir sungai seine yang disulap seperti pantai, banyak pasirnya, jadi wisatawan pada pakai baju bikini berjemur seperti di pantai. Tapi di foto ini belum ada (dok. Pribadi)

Melewati jembatan tertua, Pont Neuf (dok. pribadi)

Samaritaine, Mall dengan brand mewah yang dibangun sejak 1870 (dok. Pribadi)

Vedettes du Pont Neuf
Titik naik Vedettes du Pont Neuf (dok. pribadi)

Akhirnya sampai juggaa (dok. pribadi)

Pulang...

Di sini aku sempat merasa sedih karena pada akhirnya aku harus pulang. Perjalanan menikmati sungai Seine dengan naik Vedette sama seperti Perjalanan studiku. Atau... justru seperti perjalanan hidup?

Bahwa selama perjalanan kita akan menikmati segala keindahan. Kadang kita harus berhenti sejenak demi menikmati hidup. Melupakan sejenak segala gedebak-gedebuk tapi tetap harus berjalan kembali dengan fokus satu tujuan.

Justru sebenarnya ini adalah simulasi akhir ujian hidup. Mampu tidak kita melewatinya. Meski banyak godaan hidup, berhenti sejenak hanya untuk membuat kita fokus pada satu tujuan.

Bagiku Vedettes ini memang layak untuk dicoba.






Read More

Follower