Setelah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, kami pun melanjutkan destinasi wisata sejarah Surabaya selanjutnya yaitu mengunjungi museum HOS. Tjokroaminoto atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Tidak Jauh dari Rumah Kelahiran Bung Karno

Jarak dari Rumah Kelahiran Bung Karno ke Museum HOS. Tjokroaminoto sekitar 350 meter atau 6 menit dengan berjalan kaki. Meski harus berjalan di bawah terik jam 11 siang, kami– eh aku aja kali ya– tetep semangat pergi ke rumah tokoh pergerakan nasional HOS. Tjokroaminoto. Ihiiyy.

Sebenarnya lokasinya tidak terlalu susah dicari karena sudah ada papan penanda. Hanya perlu ketelitian saja karena papannya tidak terlalu besar.

Di sisi kanan jalan, kendaraan berbelok melewati jembatan Peneleh yang melewati Kalimas–sudah pada tahu kan wisata perahu Kalimas?

Di jembatan ini di mana Soekarno pernah bercengkerama bersama Siti Oetari yang menjadi istri pertama Soekarno. Sayangnya, beliau ini bercerai. Setelah itu, Siti Oetari menikah dengan Sigit Bachroensalam dan memiliki anak bernama Harjono Sigit, seorang arsitek dan pernah menjadi rektor ITS. Harjono Sigit inilah ayahnda Maia Estianty.

Siang itu, kendaraan tidak terlalu ramai. Persis di depan jembatan ada jalan menuju museum HOS. Tjokroaminoto, yaitu Jalan Peneleh Gang 7.

Toko buku peneleh
Toko Buku Peneleh adalah tempat Bung Karno sering mencari buku dulu (dok. Pribadi)


Suami memarkirkan mobil dekat toko buku Peneleh yang menjual buku-buku jadul. Beberapa orang terlihat seperti pengunjung di Gang tersebut.

Museum HOS Cokroaminoto
Museum HOS. Cokroaminoto dari depan (dok.pribadi)

Kami berdiri di depan bangunan berwarna hijau dan putih yang masih terjaga keasliannya. Kalaupun direnovasi hanya untuk memperbaiki kerusakan. Catnya masih tampak baru. Vibe-nya masih seperti rumah jadul. Pintu lebar dua sisi. Jendela lebar kayu yang bisa dibuka atas dan bawah. Bangunan tidak terlalu tinggi. Atap limasan. Pagar kayu hijau. Dua tiang kayu di bagian depan khas rumah limasan. Di depan museum ada bendera merah dan putih.

Di bagian depan, tampak dua nomor bangunan : 29 dan 31.

Beli Tiket Museum Online

Ketika kami mau masuk, kami dicegat penjaga dan meminta menunjukkan karcis kami. Ternyata kami harus pesan tiket dulu di tiketwisata.surabaya.go.id. 

Kita pilih tujuan wisata kemudian pilih hari dan jamnya. Perhatikan kuotanya. Kalau habis berarti pilih di jam berikutnya. Cuma setahu aku sih nggak strict banget. Terus isi data diri. Setelah itu lakukan pembayaran yang hanya bisa QRIS.

Setelah membeli tiket dan menunjukkan kepada penjaga, kami pun memasuki rumah bergaya klasik berwarna hijau itu.

Rumah Pendiri Sarekat Islam

Suasananya tampak sendu dan remang karena lampunya sengaja digunakan lampu kuning seperti zaman dulu.

Karena berada di wilayah padat penduduk, bangunan ini hanya memiliki jendela di bagian depan. Sehingga pencahayaan cuma dari depan bangunan dan lampu di dalamnya. Sirkulasi udara pun hanya dari jendela depan. Namun, museum ini sudah dilengkapi dengan AC portable sehingga pengunjung tidak akan kegerahan memasuki museum (apalagi kalau berdiri dekat AC. Haha).

Ruang tamu, dulu tempat berkumpulnya para pahlawan

Museum HOS Tjokroaminoto Surabaya
Ruang tamu (Ulasan Google Hanif Kusumaning Tyas) 

Ketika memasuki museum, suasana tenang dengan lampu kuning dan remang khas lampu pameran.

Sebuah buku besar diletakkan di atas kayu seperti podium untuk tempat pidato. Aku membacanya sebagai pengantar sebelum memasuki area yang lain.

Dari sini aku jadi membayangkan sedikit bagaimana tampilan fisik HOS. Tjokroaminoto jika beliau di depanku. Tinggi, ganteng dengan sorot mata tajam. Bunda Maia aja cantikkkk gituu apalagi kakek buyutnya.

Aku pun jadi mengerti sangat sedikit bagaimana karakter pendiri Sarikat Islam ini. Apa yang membuat beliau memiliki banyak pengikut. Soekarno muda pun saat ngekos di rumah beliau belajar banyak dari beliau. Tokoh pergerakan nasional itu telah mengajarkan Bung Karno banyak hal, mengenai pemikiran, kepemimpinan, komunikasi yang bisa membangkitkan nasionalisme. Karena itulah Pak Tjokro menjadi idolanya Bung Karno. Ia telah dididik bagaimana harusnya menjadi pemimpin bangsa.

Salah satu pesan Pak Tjokro:

"Jika kalian ingin menjadi pemimpin, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator."

Meski orasi Pak Tjokro terkenal kaku, lurus, to the point, intonasi datar tetapi menggelegar dan bisa membangkitkan semangat nasionalisme bagi pendengarnya.

Bung Karno mempelajari semua tipikal orasi Pak Tjokro bahkan Bung Karno melakukan teknik rasi yang berbeda yang bisa membedakan dengan Pak Tjokro. Yaitu menggunakan intonasi. Yang kita bisa lihat di video-video orasi Bung Karno yang penuh pemantik api semangat.

Di sisi kanan ada satu set kursi tamu kayu dengan meja bandar. Di dinding tertempel foto para tokoh pergerakan nasional. Di dekatnya ada lemari kayu berisi penghargaan sebagai bukti pengabdian HOS. Tjokroaminoto.

Aku tidak terlalu banyak mengambil foto karena kamera tidak bisa menangkap jelas saat kondisi kurang cahaya.

Kamar HOS. Tjokroaminoto

Kami memasuki ruangan kamar yang seluas sekitar 2.5 x 2.5 m. Kamar yang sitempati HOS Tjokroaminoto dan istrinya ini memiliki perabotan yang tertata rapi dan desain yang klasik seolah kita sedang memasuki zaman kolonial. 

Rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya
Kamar HOS. Tjokroaminoto (dok. Pribadi)

Ranjang besi dengan kasur kapuk dan seprei putih ditambah selambu putih menambah kesan klasik. Lampu teplok menerangi sedikit ruangan kamar itu. Meja rias kayu yang sedikit besar dan ranjang yang membuat ruang kamar terasa sempit. Di dindingnya, ada dua potret tokoh warna abu-abu dengan keterangan di bawahnya.

Kamar kos Bung Karno

Bagaimana bisa Bung Karno ngekos di rumah HOS. Tjokroaminoto ini bermula dari permintaan ayahnya, Soekemi, agar Soekarno melanjutkan sekolah ke HBS setelah lulus dari ELS. 

Karena Soekemi dan HOS. Tjokroaminoto ini bestie, jadi Soekarno ngekos di rumah Pak Tjokro. 

Kamar kosnya ada di lantai atas seperti di bagian atap bersama dengan temannya yang lain, seperti Musso, Alimin, Kartosuwiryo, Darsono dan lain-lain. Menuju ke kamarnya ini agak serem karena harus melewati tangga yang agak tegak. Anak kecil harus didampingi karena tangganya bukan seperti tangga biasa. 

Kamar kos Soekarno di Surabaya
Kamar Kos Soekarno (dok. Pribadi)

Di kamar kos ini, Soekarno mempraktikkan ilmu orasi yang didapatkan dari Pak Tjokro. Ia berorasi di depan teman-teman sekamarnya hingga membuat mereka terbangun dan tertawa.

Ruang pameran

Ruang pameran ini berada di depan kamar HOS Tjokroaminoto di mana di tempat ini dulunya menjadi tempat makan. 

Di ruang ini, pengunjung bisa melihat baju Soekarno yang dipakai saat ke sekolah HBS dan di rumah Pak tjokro.

Kemeja arrow putih dengan dasi kupu dan jas ivory. Bagian bawah pakai jarik batik motif parang barong. Alas kaki memakai selop.

Pakaian sekolah HBS Soekarno
Pakaian Sekolah Bung Karno di HBS dulu (dok. Pribadi)

Di sini juga ada koran Bandera Islam yang dibingkai di mana Pak Tjokro menjadi redaksinya, sejarah kongres PPKI dan sejarah ISDV atau Partai Komunis Indonesia.

Kenapa sampai ada sejarah PKI di rumah Pak Tjokro ini?

Karena ternyata anak kos yang juga anak didik ideologis Pak Tjokro ini merupakan tokoh utama PKI awal. 

Semakin bertumbuhnya pemahaman dan pengetahuan anak didiknya pada berbagai macam ilmu politik justru membuat ideologis anak didiknya berbeda dengan ideologis Pak Tjokro. Paham sosialisasi dan komunisme berkembang di bawah panji Sarekat Islam.

Tokoh Komunis ini menyusup di tubuh Sarekat Islam. Karena itulah, Pak Tjokro membersihkan paham yang berbeda itu dari kalangan buruh Sarekat Islam.

Dalam buku Islam dan Sosialisme karya HOS. Tjokroaminoto ini mengungkapkan bahwa sosialisme dalam Islam bisa berjalan sesuai dengan nilai kemanusiaan dan akhlak.

Pemuda Penggerak Bangsa

Dari perjalanan ke museum HOS. Tjokroaminoto, aku pun tahu bawah peran pemuda ini begitu penting dalam melawan kolonialisme. Usia HOS. Tjokroaminoto saat memimpin Sarekat Islam adalah 25 tahun. Bung Karno saat menjadi proklamasi kemerdekaan di usianya 25 tahun. 

Maka harusnya pemuda-pemuda sekarang bisa meniru beliau-beliau dalam memajukan peradaban masyarakat atau bangsa. 

Oiya dari rumah kos inilah, Soekarno jatuh cinta pada anak HOS. Tjokroaminoto, Siti Oetari, dan akhirnya menikah. Aw aw aw so sweet banget.

Ternyata punya bapak kos seorang tokoh pergerakan nasional bisa 'menghasilkan' anak kos dengan berbagai ideologi, bahkan menjadi proklamator dan Presiden Pertama RI. 

Terus aku jadi mikir mungkin harusnya nyari kos itu ya sama seperti nyari teman. Berteman sama penjual wewangian akan ikut wangi.. nyari bapak kos yang ahli ibadah bisa ikut rajin ibadah. Nyari bapak kos yang ahli ilmu, kita jadi pintar. Nyari bapak kos yg ternyata tokoh pergerakan nasional, kita pasti akan menjadi tokoh penting juga. Nah kayaknya bisa banget nih kalo yang cari kos juga harus lihat latar belakang pemilik kosnya. Soalnya kayak cari jodoh dan akan memengaruhi kehidupan kita.

Selesailah kunjungan wisata sejarah kami ke rumah HOS. Tjokroaminoto di Surabaya. Karena adzan sudah berkumandang, kami pun ke masjid terdekat, Masjid Peneleh, yang ternyata adalah masjidnya Sunan Ampel dulu. MaasyaAllah.
Read More
Perjalanan panjang bangsa ini tak lepas dari peran para pemuda di zaman dulu. Keberanian dan semangat pantang menyerah untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bisa terlihat jelas pada diri pahlawan bangsa. Presiden pertama RI dan bisa disebut pemuda menjadi salah satu pahlawan bangsa yang berjasa memerdekakan bangsa ini.

Ir. Soekarno telah melewati masa-masa berat dan suram. Tapi aku kali ini tidak akan menjadi guru sejarah yang akan membuat para pembaca yang baik hati mengantuk karena tulisanku. Hehe. Semoga memang tidak mengantuk ya..

Rencana mengunjungi Peneleh akhirnya terwujud juga. Kunjungan pertama adalah ke rumah masa kecil Ir. Soekarno. Berbekal Google Maps kami pun tiba di sekitar kawasan Peneleh, salah satu kawasan tertua di Surabaya yang sudah ada sejak tahun 1275.

Yang agak susah, tempat parkir untuk mobil yang terbatas. Kami pun parkir di pinggir jalan tanpa pepohonan. Beberapa bus juga terparkir di sisi jalan yang lain. 

Ternyata ada hotel di sekitar Peneleh yang sepertinya untuk rombongan trip sejarah. Sepertinya...

Di tengah panasnya Surabaya meski masih jam 10 pagi, kami berjalan menyusuri jalanan pinggir Peneleh, yang dekat dengan sungai Kalimas. 

Wisata Sejarah surabaya
Gerbang Rumah Kelahiran bung Karno (dok. Pribadi)

Kami berhenti sejenak di depan gapura bertuliskan Rumah Kelahiran Bung Karno. Aku mengambil foto-foto sejenak. Gapuranya biasa. Ada sketsa di sisi kiri gapura. Ada juga ikon buaya dan ikon hiu ditempel di gapura. Seorang penjaga duduk di dekat gerbang masuk. 

Gang di depan kami sama seperti gang Surabaya lainnya, kecil, paving dan bukan jalur untuk mobil. Jalan ini bernama Jalan Pandean IV yang pernah menjadi saksi lahirnya putra bangsa.  

Memasuki Kampung Pandean, gang yang bersih dan padat dengan rumah penduduk, aku melihat sisi kiri lukisan tentang perjalanan Bung Karno dari lahir. Tanaman hijau sederhana memperindah pemandangan dari luar.

Perjalanan Bung Karno di Surabaya

Wisata sejarah Rumah Lahir Bung Karno Surabaya
Seni mural perjalanan masa kecil Soekarno (dok. Pribadi)

Dari seni mural di Jalan Pandean IV ini memberikan kisah singkat tentang sejsrha rumah lahir Bung Karno di Surabaya.

Kami memasuki rumah tanpa teras yang memiliki penanda rumah masa kecil Bung Karno. Rumahnya jelas sudah direnovasi. Dindingnya bercat putih dengan jendela kaca dan bingkai kayu cokelat. Pintu rumah berada di tengah bangunan. Di bagian atas pintu ada penanda berbentuk kipas bertuliskan "Rumah Lahir Bung Karno".

Rumah Kelahiran Bung Karno
Depan Rumah Kelahiran Bung Karno (dok. Pribadi)

Dari luar, tidak tampak seperti rumah di sekitarnya. Unsur jadul memang masih terasa sedikit meski tampaknya sudah bangunan baru karena sudah direnovasi. Sepertinya bagian atap juga sudah ditinggikan. Biasanya nih bangunan jadul milik pribumi tidak terlalu tinggi jarak lantai ke atap.

Tak ada petugas loket di bagian depan. Tak ada pengunjung lain. Semua tampak sepi seperti gang yang kami lewati. Hanya suara anak-anakku yang berisik. 

Undakan sedikit untuk memasuki rumahnya. Ketika membuka pintu, foto masa kecil Soekarno yang memakai blangkon tampak jelas menyambut pengunjung. Wajahnya yang tampan membuatku mengaguminya. Tak heran jika di waktu itu banyak perempuan yang jatuh hati pada beliau.

Di sampingnya bertuliskan:

"...Saja dilahirkan di Surabaja jadi saja arek Surabaja." - Ir. Soekarno.

Soekarno masa kecil
Soekarno Masa Muda (dok. Pribadi)

Jelas yo rek! Bung Karno arek Suroboyo! Hehehe

Keluarga Bung Karno

R. Soekeni, ayah Bung Karno, merupakan orang Tulungagung yang berprofesi sebagai guru Tweede Klasse Scholen di Buleleng, Bali, pada tahun 1891. 

Kemudian bertemu dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Meski berbeda agama, islam dan Hindu, mereka akhirnya menikah tahun 1897. Karena perbedaan agama ini, keluarga mereka tidak merestui hingga nikah lari. 

Mereka memiliki anak pertama bernama Soekarmini tahun 1898. Di tahun yang sama mereka pindah ke Jawa, tepatnya di Surabaya. Pada waktu itu status rumah masih mengontrak.

R. Soekeni mengajar di Inland Scool (sekarang: SDN Sulung) di Surabaya.

Kelahiran Bung Karno

Dua tahun di Jawa, Ida Ayu melahirkan anak kedua bernama Koesno Sosrodihardjo di tahun 1901 pada pagi hari, yang kita kenal sebagai presiden pertama Indonesia.

Dalam bahasa Jawa, Koesno artinya kesentausaan dan menyukai ilmu pengetahuan. 

Yang paling mengharukan dari perkataan ibunya pada Bung Karno kecil adalah:

Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau anakku kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena ibu melahirkan saat fajar menyingsing. Jangan sekali-kali engkau lupa, Nak, bahwa putra sang fajar.

MaasyaAllah. Saat baca ini. Aku terharu. Bagaimana tidak, kata-kata seorang ibu itu ibarat doa yang mudah sekali Allah wujudkan. Padahal seorang Ida Ayu masih menganut Hindu hingga akhir hayatnya. Mungkin ia tahu bahwa ucapan ibu adalah doa.

Aku berkaca pada diriku. Tiga anakku semua lahir saat fajar. Semoga kelak mereka menjadi orang mulia dan pemimpin rakyat. Semoga lisanku juga mudah berucap kata baik-baik untuk anak-anakku. Aamiinn.

Dan kamar Koesno kecil yang dulu masih berupa tanah dan bambu, kini telah difungsikan untuk pemutaran film dokumenter Pak Soekarno kecil. 

Ruangan kamar Koesno kecil juga telah direnovasi. Tidak ada benda peninggalan apa pun dari Soekarno dalam rumah ini. Di ruangan tersebut disediakan beberapa kursi, televisi untuk menayangkan film dokumenter dipasang di dinding, dan di pojok ruangan, sound system dipasang agar suara lebih terdengar jelas. 

Ruangan Augmented Reality

Uniknya, di ruangan lain, disediakan layar augmented reality. Ketika kita duduk di kursi, maka layar akan menyala otomatis. 

Seketika layar memperlihatkan rekaman masa kecil Soekarno dan gambar Soekarno sedang berdiri memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. 

Anakku excited ketika melihat mereka bisa masuk ke dalam televisi. Tangan mereka terangkat. Mereka tertawa. Mereka bergeser dari kiri ke kanan. Lucu.

Teknologi augmented reality di rumah kelahiran Bung Karno
Ruangan Augmented Reality (dok. Pribadi)

Pekerjaan Soekeni dan Sekolah Soekarno

Setelah enam bulan lahir, ayahnya, R. Soekeni ditugaskan menjadi guru di Jombang. Saat orang tuanya tingga di Jombang, sekitar tahun 1903, Soekarno diasuh kakaknya di Tulungagung. Koesno kecil ini sering sekali sakit. Sampai akhirnya keluarga memutuskan agar mengganti namanya menjadi Soekarno. Penggantian nama ini diikuti dengan selametan. 

Kemudian tak lama Soekeni dipindahkan lagi ke Sidoarjo dan Mojokerto. 

Di tahun 1915, Soekeni ditugaskan ke Blitar. Satu tahun kemudian, di usia 16 tahun, saat orang tuanya di Blitar, Soekarno kembali ke Surabaya untuk menuntut ilmu di Hoogere Burgerschool (HBS). Beliau mengontrak di rumah HOS. Cokroaminoto yang tidak jauh dari rumah lahirnya hingga lulus tahun 1921.

Perjalanan hidup Soekarno
Perjalanan Hidup Soekarno (dok. Pribadi)

Belajar dari orang tua Soekarno

Alasan aku kenapa menyukai pergi ke museum adalah karena biasanya ada cerita yang bikin hati terasa trenyuh atau bisa jadi refleksi diri untuk menjadi lebih baik. 

Pertama ketika membaca tulisan di bawah potret ayahnda, Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Beliau mengajarkan tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Koesno sering dihukum karena melanggar aturan yang sudah diajarkan Soekeni.  

Apakah kalian juga menerapkan hukuman pada keluarga kecil kalian?

Semoga Allah terus membimbing kami. Semoga menjadikan anak-anak kami (para laki-laki) ini tegas dan disiplin. Calon pemimpin masa depan. Aamiinn

Beliau juga mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk hidup. Beliau juga menanamkan pendidikan formal dan agama secara mendalam kepada anak-anaknya.

Sementara ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, ketika Koesno mendapat hukuman dari ayahnya, maka ibunya ini menjadi penyeimbang dengan memberikan pelukan hangat. Ibu menjadi tempat untuk berlindung dan mengadu. 

Terakhir, tentang persaudaraan dengan kakak perempuannya. Aku benar-benar lupa. Tidak sempat aku foto. Dan pesannya mirip sekali dengan kondisi anak-anak kami.

Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah Kecil Penuh Makna

Meskipun sederhana, tidak bisa disebut museum karena memang tidak ada barang bersejarah yang dimuseumkan. Tapi meski tampak rumah biasa dan tak ada banyak benda bersejarah, selain kisah sejarah hidup Soekarno, ternyata Rumah Bung Karno Surabaya ini menyimpan makna tentang hubungan orang tua dan anak serta persaudaraan.  dan sejarah.

Ketika kalian mencari wisata sejarah Surabaya, datanglah ke rumah lahir Bung Karno. Peneleh tak hanya menyimpan cerita tentang rumah lahirnya Soekarno tetapi juga rumah HOS Cokroaminoto yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari rumah Soekarno.

Ada yang sudah pernah mengunjungi Rumah Lahir Soekarno?

Oiya kalau kalian sudah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, saranku kalian pergi ke Sumur Tua Majapahit yang hanya beda dua gang saja. Aku pun baru tahu loh infonya jadi aku nggak sempat ke sana. Setelah itu baru ke rumah museum HOS. Cokroaminoto.
Read More
Sebagai warga yang tinggal di pinggiran Kota Surabaya, ketika ada keluarga jauh datang, kami menawarkan untuk jalan keliling Surabaya. Tapi kalau malam hari, tempat wisata Surabaya yang bisa dikunjungi seperti wisata Tunjungan Romansa, tempat wisata sejarah di sekitar Jalan Tunjungan. Hanya saja tempatnya ramai dan banyak anak muda. Bagi keluarga yang sudah lansia mungkin kurang cocok kali ya. Apalagi kalau tidak suka keramaian dan jalan yang jauh. Akhirnya, aku menawarkan wisata perahu Kalimas yang mirip seperti wisata air Venezia di Italia atau seperti Singapura. Aku kurang tahu kalau di kota lain apakah ada wisata air yang serupa?


Lokasi tengah kota Surabaya

Lokasinya cukup jauh dari rumah kami yaitu berada di Jalan Ketabang Kali. Lama perjalanan dari Waru sekitar 40 menit atau sekitar 16 km.
Lokasinya juga mudah dicari lewat Google. Nanti ada pujasera di dekat taman Prestasi dan dermaga Kalimas. 

Pemesanan tiket

Pertama kali ke sana, kami tidak tahu kalau harus pesan tiket wisata perahu Kalimas di website Tiket Wisata Surabaya. Jadilah kehabisan kuota dan kami tidak bisa naik perahu. Kesempatan selanjutnya, ketika keluargaku dari Kalimantan datang, kami pun memesan tiket wisata dulu sebelum berangkat. Alhamdulillah masih dapat kuota. Harganya murah cuma 7.000 rupiah saja. Kuotanya terbatas. Makanya cepat habis. Sekali naik perahu bisa 10an orang.

Wisata Perahu Kalimas

Wisata Perahu Kalimas direvitalisasi sekitar tahun 2021 dan mulai aktif digunakan tahun 2022.

Sebenarnya ada dua rute wisata perahu Kalimas yaitu Taman Prestasi - Monumen Kapal Selam (Monkasel), dan Taman Prestasi - Museum Pendidikan. Kita ambil rute Taman Prestasi - Museum Pendidikan karena tidak terlalu jauh. Harganya berbeda setiap rute. 

Jam buka Wisata Perahu Kalimas dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Jangan mepet datang jam setengah 9 ya karena biasanya masih antri. Daripada nggak keburu.

Kami tiba di sana sekitar jam 8 lewat dikit. Ketika keluarga mertua datang, kami hanya sempat foto-foto saja. Anak-anak kecil menyukai bermain di taman Prestasi.

Ketika keluarga dari Kalimantan datang, mereka setuju untuk wisata perahu Kalimas. aku langsung memesan tiket di website. 

Malamnya setelah makan malam Bebek wahid hasyim kami meluncur ke Wisata Perahu Kalimas.

Di sana mobil sudah parkir cukup banyak meskipun agak susah karena berada di pinggir jalan. 

Aku langsung segera menuju ke loket tiket. Di sana aku harus menunjukkan tiket yang sudah di pesan. Setelah itu, kami berjalan menuju garis antrian sebelum naik perahu. 

Wisata perahu kalimas surabaya


Di depan kami ada beberapa orang yang juga akan naik. Tidak terlalu ramai sih. Jadi kami bisa langsung naik perahu tanpa antri lama. 

Sebelum naik, penumpang diminta untuk memakai pelampung oranye. Begitu juga anak-anak. Mereka memakai pelampung. Orang dewasa juga. Petugas meminta kami ysng sudah memasang pelampung untuk segera menaiki perahu. Seorang petugas sudah duduk dibalik kemudi dan siap untuk membawa penumpang keliling sungai.

Kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Lampu-lampu menghiasi tepian sungai Kalimas. Warna magenta terang  menerangi sungai yang gelap. 

Wisata seru surabaya


Anak-anak mulai sumringah merasakan perahu berjalan pelan. Adik cuma bengong saja melihat ke arah depan. Semua merasakan pengalaman yang baru malam itu.

Di tengah sungai, tergantung lampion dengan berbagai bentuk seperti kupu-kupu, bebek, dan lain-lain.

Dari kejauhan tampak tingginya Tunjungan Plaza dan menara apartemen yang dihiasi dengan lampu-lampu. 

Setelah berjalan sedikit jauh ke arah Museum Pendidikan, sungai sudah mulai gelap karena lampu-lampu sudah mulai jarang. Di sini aku merasa agak serem dikit.

Memang sedikit gelap meski lampion-lampion menghias sungai.

Kapan waktu yang tepat naik perahu? 

Menurutku paling enak saat sore hari menjelang maghrib karena udara tidak panas dan masih terlihat bangunan di pinggir sungai. Tapi kalau kalian suka melihat lampion yang menyala bisa pilih jadwal yang malam hari.

Sejarah Singkat Sungai Kalimas 

Jika sekarang, jalan-jalan menjadi cikal bakal dam urat nadi perkembangan suatu kota. Maka di zaman dulu, sungai, sebagai anugerah yang diberikan Allah sebagai pencipta, yang menjadi awal mula perkembangan suatu kota.

Begitu juga Kalimas yang menjadi jalur transportasi dsn perdagangan Majapahit dan VOC. Dari jalur inilah, rempah-rempah didistribusikan dari pelosok daerah ke negara lain begitu juga sebaliknya. Sungai kalimas ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah era kolonial.

Sejarah kalimas surabaya
Kalimas zaman dulu (IG @surabayapunyacerita)

Kalimas ini merupakan jalur transportasi yang membawa barang dagangan yang berharga. Itulah mengapa disebut Kalimas. Kali dalam bahasa Jawa artinya Sungai. Dan mas artinya adalah emas yang bisa dimaknai dengan sesuatu yang berharga.

Karena jalur penting ini di beberapa tempat juga dibangun jembatan yang bersejarah seperti jembatan merah, jembatan petekan dan jembatan peneleh yang masih bisa kita lihat sekarang.

Pada tahun 1990an, wisata perahu Kalimas dimiliki oleh Grahadi kemudian berpindah ke Dinas Pariwisata Surabaya.

Kalau ke Surabaya, Jangan Lupa Naik Perahu Kalimas

Nah, wisata perahu Kalimas ini bisa menjadi destinasi wisata Surabaya yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin bisa coba yang rute dari Monkasel. Jadi setelah wisata di monumen kapal Selam bisa naik perahu Kalimas. 

Read More
Setelah lelah menunggu dari pagi sampai siang melihat karya anak negeri di Universitas Negeri Jember, aku mulai browsing-browsing hotel di Jember yang murah-murah ajaa. Karena bawa anak-anak, aku mencari hotel yang ada kolam renang. Setelah diskusi akhirnya kita pilih menginap di Hotel Bandung Permai Jember depan Trans Mall.

Bandung Permain Hotel Jember (agoda.com)

Hotel Bandung Permai Pernah Jaya di Masanya

Hotel Bandung Permai Jember merupakan hotel bintang 3 yang berlokasi di Kaliwates. Kalau dari arah kota Jember, kita harus putar balik. Hotel ini dibangun sejak tahun 1980an. Lama bangeett..

Dari tampilan di internet, gedungnya besar dan masih bangunan tua. Bagi sebagian orang mungkin tampak menyeramkan.

Meski tampak jadul, bangunan luarnya juga masih terawat. Biasanya bangunan tahun segitu sudah banyak yang ngelupas, rusak dan bocor. Sepertinya di hotel ini tidak begitu tampak rusak parah.

Saat pesan hotel ini pun aku nggak kepikiran macam-macam. Entah kepikiran serem atau mistis. Nggak sama sekali karena memang masih terawat. Hawa-hawanya juga normal-normal aja.

Biasanya kalau datang ke suatu bangunan lawas, kita akan merasakan hawa tidak enak. Merasa seperti ada yang mengawasi. Seperti saat masuk ke Hotel Majapahit Surabaya. Bangunan tua dan mewah yang menurutku vibe-nya sedikit menyeramkan. Hehe.

Ternyata hotel ini pernah jaya di masanya, loh. Semakin lama, hotel ini kehilangan pamornya dan kalah dengan hotel-hotel modern lainnya di tengah kota Jember. Isunya, hotel ini dijual atau dialihkan ke pemilik lain begitu. Entah sudah dialihkan atau sedang proses. Terlepas dari itu semua, sekarang hotel itu masih aktif dan menerima pengunjung.

Harga Kamar Hotel

Kalau pesan datang langsung ke hotel, rate kamar hotel ini lebih murah dibanding kalau pesan di OTA. Rate per kamar kalau nggak salah Rp. 250.000,-. Kalau di OTA di atas itu.

Gara-gara aku baca review, aku chat WA dulu yang aku dapat dari IG-nya. Apakah masih tersedia kamarnya? Jawabannya akan dicek dulu tapi kok lama banget. Aku menunggu chatnya sampai satu jam. Karena tidak segera dapat jawaban, aku memilih datang langsung saja dan menanyakan ketersediaan hotel.

Fasilitas Hotel

Parkir mobil

Saat aku masuk ke gerbangnya, aku lihat ada tiga bus parkir yang sepertinya akan menunggu penumpang check out hotel. Mobilku berhenti di dekat lobby. 

Hotel murah jember
Parkir mobil di belakang (agoda.com)


Sebenarnya di parkir depan gedung ini tidak terlalu luas. Di bagian belakang gedung, justru bisa muat banyak mobil. Tempatnya ada yang teduh juga. Di sana sudah ada beberapa mobil yang parkir.

Lobby hotel

Saat di lobby, aku disambut oleh pegawai yang ramah. Aku menanyakan kamar kosong apakah masih tersedia? Sayangnya mereka nggak bisa menjawab karena harus menunggu sekitar jam 2 karena masih ada rombongan yang belum check out.

Hotel murah ada kolam remang jember
Lobby hotel (hotelmurah.com)

Akhirnya aku menunggu di lobby hotel. Aku mengajak anak-anak duduk di sofa dekat lobby. Tapi namanya anak-anak mana bisa diam. Ada aja tingkahnya. Mulai keliling lobby, lihat-lihat bagian belakang gedung yang ada kolam renangnya, atau memperhatikan mbak-mbak lobby yang sibuk melayani pengunjung.

Ruang lobby ini tampak biasa. Bukan bangunan modern. Tapi cukup bersih. Sofanya pun masih layak diduduki.

Hotel 200ribuan jember
Sofa di lobby hotel (reserving.com)
 
Setelah sekitar 1 jam menunggu, dan setelah aku bertanya bolak-balik, kami pun dapat kamar. Awalnya mau dikasih menghadap Trans Mall tapi aku minta yang menghadap kolam renang. Mereka memastikan lagi kalau kamarnya sudah ready. Jadi kami menunggu lagi. Untuk urusan ini memang agak riweuh sedikit.

Lift Hotel

Petugas dengan senyum ramahnya dan selalu bersemangat itu mengantarkan kami menuju kamar. Sebenarnya kami hanya naik ke lantai 2 saja tapi petugas mengarahkan kami untuk pakai lift dekat lobby. Sampai di lantai 2, koridor hotel lebih terang dan di bagian sini tampak kontras dengan ruang lobby. Di Lantai dua, bangunan sudah direnovasi jadi tampak bersih dan bagus meskipun bukan desain ala hotel bintang 4 dan 5 ya..

Kamar yang luas

Beliau membuka pintu kamar yang menggunakan kunci manual dan pegangan pintu yang diputar. Kami pun dipersilakan masuk. Kesan pertamaku adalah... luas dan lumayanlah kamarnya. Tidak sejadul bangunan luarnya. Mungkin karena hotel zaman dulu kamarnya pasti luas dan ada sofa ya.

Bandung Permai Hotel Jember
Kamar luas (tiket.com)

Lemari baju

Ada lemari cukup besar di sebelah kanan. Meskipun beberapa sudutnya sudah ada yang sedikit rusak tapi masih bisa untuk menggantung baju. Di sebelah kiri ada kamar mandi dengan bath tub. Di dekat lemari ada meja dengan kaca besar di atasnya ada tivi. Di sebelah kanan ada spring bed. Di sampingnya ada meja. Satu sofa cokelat dekat jendela.

Televisi, cara agar anak anteng

Jujur, kadang capek juga lihat anak nggak bisa diam apalagi kalau udah di luar kota begini. Nah, satu-satunya cara biar mereka diam ya hanya diberikan tontonan. Sebenarnya, aku termasuk ibu yang tidak ingin anaknya terlalu lama menonton. Di rumah pun, aku tidak pernah menyalakan televisi. 

Di rumah, dia tidak pernah saya kasih tontonan Youtube kecuali kalau aku harus keluar dan mereka di rumah; dan saat mereka pulang ke rumah kakek dan neneknya. 

Banyak yang tanya, hiburannya apa? 

Ada lego, kadang menggambar, mainan blok, bermain peran dll. Meski pun kadang rebutan dan menguras kesabaran ibu, itu lebih bisa dimaklumi daripada nonton film berjam-jam. Duh, efeknya itu soalnya.

Di kamar hotel, bersyukur sekali sudah ada televisi. Televisinya bukan televisi tabung ya. Tapi sudah layar LED dan ditempel di dinding. Mereka sampai kamar hotel pun setelah beres berenang langsung nonton sampai check out.

Tapi sayangnya, televisi hanya bisa menyala sampai lama waktu tertentu. Setelah dua jam, televisi akan mati dan tidak bisa dinyalakan. Atau aku saja yang tidak bisa menyalakan?

Tapi ya sudah lah, mungkin memang waktunya istirahat. Hehe..

Tempat tidur yang luas dan sofa

Menurutku tempat tidurnya lebih luas dibanding di kamar Sun Apartemen atau bahkan hotel lain yang pernah kukunjungi. Sofa di kamar sebenarnya membantu kami kalau tempat tidur nggak cukup. Salah satu dari kami bisa tidur di sofa. 

Agak aneh sih, seluas-luasnya spring bed biasanya ukuran berapa sih? Meskipun kami berlima tidur bareng, masih ada sisa tempat kasur. Mungkin ini anugerah dari Allah yang memberi kami badan kurus-kurus. Salah satunya biar bisa cukup satu kasur berlima. Hehe. Meskipun ada selimut tapi kami tidak pakai karena gerah. Loh?

Fasilitas hotel Bandung permai hotel
Tempat tidur luas (agoda.com)

Pemandangan indah

Aku membuka gorden sedikit. Jendela besar dengan gorden besar menampakkan pemandangan kolam renang dan pegunungan. Cocok banget untuk menenangkan diri.

Hotel view gunung di jember
View gunung dan kereta lewat (foto pribadi)

Kadang malam hari, kami mendengar kereta lewat. Suaranya terdengar jelas. Meski dibatasi tembok hotel, tapi kami bisa melihat kereta lewat. Tidak terlalu mengganggu karena tidak sering.

AC Kamar Tidak Dingin

Sayaaang bangettt, AC kamarnya nggak dingin meskipun ada angin yang keluar dari AC-nya. Hiks. Yaa namanya juga minta murah wkwkwk. Saking panasnya kalau siang, kami buka jendela. Berharap ada angin sepoi-sepoi masuk tapi juga nggak ada angin. Huaaa.

Eh kalau malam, meski jendela ditutup, kondisi kamar tidak terlalu panas, sih. Jadi kami tetap bisa tidur dengan nyenyak soalnya udah capek bangeeett.

Kolam renang

Kolam ini berada di sebelah parkir mobil. Setelah mengantar suami ke Unej, aku kembali ke hotel dan mengajak anak-anak berenang.

Hotel dengan kolam renang jember
Kolam renang Bandung Permai Hotel (agoda com)

Kita memasuki bangunan yang terpisah. Sebuah meja menjadi pintu pengunjung di mana penjaga kolam renang duduk di sana dan menanyakan apakah tamu hotel atau bukan. Setelah konfirmasi, kami boleh masuk.

Kolam renang Bandung Permai Hotel ini dibagi dua kolam: dewasa dan anak. Kolam renangnya cukup luas. Di sekitarnya ada tempat duduk dan ayunan.

Berenang di sini selalu sepi kulihat. Bisa dihitung jari yang berenang di sini. Ada yang pengunjung hotel . Ada pula anak-anak yang berlatih berenang.

Namanya anak-anak yaa... pas ketemu anakku malah ikut main, haha. Sampai dipanggil berapa kali sama coach.

Aku menunggui mereka di tempat yang dingin. Kadang di ayunan, kadang di tempat duduk yang tidak terkena matahari. Kira-kira hampir satu jam berenang, aku meminta mereka menyudahi berenang.

Kakaknya sudah lebih dulu membersihkan diri di kamar mandi kolam renang, sedangkan adik-adiknya aku meminta mereka membersihkan diri di kamar. Karena aku tidak mau repot. Hehe.

Kalau di kamar hotel, baju jalanku tidak basah.

Kamar mandi di kamar hotel

Kamar mandi juga masih jadul. Anak-anak sangat excited melihat bath tub. Mereka kira bisa bermain air di bath tub. Tapi karena aku tidak menemukan penutupnya, jadi mereka tidak bisa mengumpulkan air di bath tub dan bermain.

Meski mereka tampak kecewa, tapi mereka tak kehabisan akal untuk membuat segala sesuatu di dekatnya menjadi menyenangkan. Dengan shower yang airnya jatuh ke bath tub, mereka tetap bisa bermain air.

Di kamar mandi ini disediakan gayung. Aku mengira buat mandi tapi karena tidak ada ember, sepertinya gayung itu untuk berkumur saat gosok gigi. Di bagian bawah wastafel sudah ada bak sampah. Dua handuk dan perlengkapan mandi juga sudah disediakan. Yang kurang, memang tidak ada air hangat, meski ada kran putaran air panas. Hehe.

Musholla

Musholla ini berada di dekat tempat penjaga tadi duduk. Beberapa orang keluar masuk dari musholla. Sepertinya pengunjung yang sedang ada acara di aula hotel.

Hotel jadul, hotel menyeramkan?

Setelah menginap di Bandung Permai Hotel Jember, apakah hotel jadul ini pasti menyeramkan? Jawabanku tidak. Karena aku alhamdulillah tidak ditunjukkan hal-hal mistis itu. Vibes-nya oke-oke aja. Tidak ada hawa tidak enak atau menyeramkan. Hotel ini bisa jadi alternatif yang bawa anak banyak dan ingin berenang. Tapi pastikan lagi cari kamar yang AC-nya menyala. Sekian review Bandung Permai Hotel Jember.

Read More
Pemandangan gunung dan kereta lewat dari jendela kamar hotel

Ketika suami mengajakku dan anak-anak ikut ke Jember, pikiranku berkelana saat aku masih kuliah. Kota yang terkenal dengan tapenya itu pernah kukunjungi satu kali saat kuliah karena memang ingin pergi ke rumah sepupu.

Saat ini, aku pergi ke Jember karena suami sedang ada tugas menemani mahasiswa. Karena acaranya akhir pekan, aku menyetujui. Coba kalau hari sekolah, aku pasti menolak. Hehe.

Yang aku pikirkan lagi, kalau suamiku ada acara, aku sama anak-anak ngapain ? Ah, gampang lah! Pikirku. Bisa jalan-jalan kemana gitu kan. Yaudah dong. Anak-anak juga semangat mau ikut. Tapi, aku sudah kasih wanti-wanti ke mereka karena ayah ada acara dan lama, jadi jangan rewel ya. Kubayangkan nggak sanggup lah aku kalau mereka rewelnya barengan, di tempat umum pula.

Keunikan Karakter Pemandangan Sepanjang Perjalanan

Lama perjalanan dari Surabaya ke Jember sekitar lima jam. Kami berangkat sekitar jam setengah tiga pagi. Selama perjalanan, anak-anak melanjutkan tidur lagi.

Aku dan suami sama-sama belum hafal jalan. Waktu dulu ke Jember pun aku naik bus jadi nggak mungkin ingat jalan, hehe. Tentu saja kami masih mengandalkan Google Map.

Perjalanan kami benar-benar berbeda seperti perjalanan kami dari Surabaya ke Semarang atau Surabaya ke Sragen yang terus-terusan disuguhkan pemandangan sawah, tol dan hutan.

Perjalanan ke Jember sebenarnya hampir sama karakteristiknya saat perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi. Sama-sama merasakan nuansa pedesaan yang kuat. Bedanya, saat aku pergi ke Banyuwangi bersama rombongan kantor suami, aku lebih banyak tidur. Sedangkan saat pergi ke Jember, aku cuma tidur sebentar hehe. Selebihnya menikmati perjalanan.

Kami berhenti sholat subuh di sekitar Leces, setelah keluar dari tol Probolinggo. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan yaitu arah Lumajang, melewati Klakah kemudian belok kiri. Sepanjang perjalanan kami harus bersaing dengan truk-truk yang melewati jalanan sepi, kadang bergeronjal dan tidak terlalu lebar. Kami sempat mengira bahwa kami tersesat. Karena jalan yang kami lalui itu tidak lebar seperti bukan jalan antar kota yang lebar. Kami percaya saja pada Google Map.

Matahari mulai terbit. Embun-embun mulai turun di antara pepohonan. Menikmati aroma pedesaan dengan pemandangan yang hijau terasa menyenangkan. Kami berhenti pakai AC. Memilih membuka jendela agar udara pagi masuk ke mobil dan bertukar dengan bau abab kami. Haha.

Sepanjang perjalanan, kami melewati pedesaan dengan jalan yang tidak selebar jalan Waru-Aloha. Sampai di Lumajang, motor-motor berjejer di pinggir jalan membawa beberapa tandan pisang berwarna hijau di kanan kirinya. MaasyaAllah. Aku lupa kalau Lumajang memang terkenal dengan pisangnya.

Bingung Cari Sarapan

Sesampainya di Jember sekitar jam 7 pagi, kami langsung menuju ke kampus Universitas Jember, sebagai tempat acara. Di sana sudah banyak rombongan bus mahasiswa dari berbagai parkir di halaman kampus. Suami mendatangi mahasiswanya. Karya anak negeri belum semuanya terlihat.

Anak-anakku sudah teriak-teriak kelaparan. Daripada kupingku panas, aku mengajak mereka mencari tempat makan.

Masalahnya, aku ngga tahu tempat beli makan di mana. Mana masih pagi kan. Saat keluar dari gerbang. Dari jauh, aku lihat plang tempat makan ayam crispy. Tapi kami harus jalan lagi. Anal-anak sudah mulai heboh. Kepalaku mulai panik.

Di depan, ada tenda penjual makanan. Ada tempat duduk lesehan juga. Akhirnya tanpa pikir panjang, aku mengajak mereka makan di warung tenda. Aku menyuruh mereka memilih makanan.

Padahal menu makanannya beragam. Ada nasi campur dan pecel. Tapi anakku pilih sosis bakar dan nasi. Sebenarnya aku sangat menghindari sosis, tapi karena tidak ada pilihan lain, ya sudah deeehhh.

Mereka makan nasi dan sosis bakar. Aku makan nasi campur. Eh apa pecel ya..

Mereka juga minta minum susu kental manis. Daripada mereka rewel yaaa... aku bolehin aja sih. Hihi. Kalau bukan karena terpaksa, aku nggak bolehin deh. Memang aku agak strict karena mereka punya dispepsia dan bronkitis jadi hati-hati dengan makanan yang masuk ke tubuh. Aku juga beli satu bungkus nasi untuk suami.

Makan di warung tenda ternyata murah banget. Kami makan berempat dan satu bungkus habis sekitar 38an ribu.

Menyaksikan Karya Anak Negeri di Universitas Jember

Kami kembali ke kampus, dan sudah mulai banyak karya anak negeri, prototipe mobil hemat energi, yang dipamerkan di jalanan kampus. Prototipe itu yang akan dikonteskan. Kegiatan Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE).

Suami ikut kefoto, Rek! Haha 

Kata anakku bentuknya seperti UFO. Ya, karena memang selucu itu. Mobil hemat energi dengan ukuran kecil. Hanya seseorang yang berbadan ramping yang bisa masuk ke dalam kotak mobil itu.

Mahasiswa dari berbagai kampus pun datang, seperti ITB, ITS, UI, ITK, Unesa, ada yang dari kalimantan dan Sumatera juga.

Karena aku tidak bertemu suami, aku dan anak-anak berkeliling di belakang paddock (garasi mobil bertenda) sambil melihat aktivitas mahasiswa-mahasiswa yang keren-keren itu. Siapa tahu aku melihat suami lagi di paddock kampusnya. Soalnya hanya bisa masuk ke dalamnya hanya peserta atau pendamping yang punya nametag.

Sayangnya, sampai di depan rektorat, aku tidak melihat suamiku. Akhirnya aku berputar arah lagi, siapa tahu ada di depan masjid. Eh, ternyata juga tidak ada.

Anakku mulai ngomel-ngomel dan bosen karena harus keliling-keliling jalan kaki nggak jelas. Aduh. Aku juga bingug kasih mereka aktivitas apa. Akhirnya kami menunggu saja di latar masjid.

Dan seperti biasaaa... anak-anak cowok ini hebohnya maasyaAllah. Sampai gemeeesss!! Pengen dicokot!

Sebenarnya bisa saja aku kasih mereka hape.. tapi masih pagi banget sih. Masih jam 8 pagi. Acara saja belum dimulai. Dan mereka mulai bosen. Aku muali lelah pengen berbaring.

Tak ada yang bisa kulakukan selain mengamati prototipe-prototipe, bermain hape dan membaca tulisan.

Nggak pergi ke tempat wisata di Jember?

Sebenarnya pengen banget bisa wisata di Jember. Eh, tapi kemanaa? Pergi ke pantai Papuma itu jauh bowk. Aku nggak berani ambil resiko bawa mobil ke jalanan yang aku tidak tahu medan perangnya. Daripada kenapa-kenapa di jalan, suamiku tambah repot nanti. Wkwkwk.

Akhirnya aku cari tempat wisata di Jember selain pantai. Adanya Jember Mini Zoo, Taman Botani Sukorambe, Trans Studio, Kidzoona, Tiara Jember Waterboom, dan lain-lain. Setelah aku lihat di Google, ulasan, harganya dan foto-foto, aku merasa kurang worth to visit. Soalnya udah bayangin komentar anak-anak. 

"Ha, gini aja?" Issh. 

Mereka emang lebih suka ke tempat yang banyak permainan. Sebenarnya Trans Studio atau Kidzoona. Tapi itu sih biasa banget karena di Surabaya pun ada. Jember Mini zoo kalau kulihat-lihat hewannya lebih banyak Kebun Binatang Surabaya. Haha. Waterboom juga udah sering banget. Taman Botani kulihat yaa tanaman-tanaman gitu kan. 

Aslinya aku lebih suka datang ke tempat wisata yang hanya ada di kota itu, misalnya museum. Aku udah semangat banget mau dateng ke Museum Tembakau eh lihat di Google ternyata tutup. Sayang banget. 

Dahlah daripada capek, akhirnya aku nunggu di masjid sambil leyeh-leyeh. Wkwkwk. Serius nggak jadi wisata Jember. 

Anak-anak aku pinjamkan Youtube. Aku menyerah. Akhirnya aku bertemu suami, kami berdiskusi tentang tempat menginap. Sebenarnya suami dapat jatah kamar, tapi kamarnya bersama dosen lain jadi tidak mungkin kan diambil. Ntar aku dan anak-anak tidur di mana. So, kita cari hotel yang sesuai budget kita aja lah. Yang ada kolam renang dan tempat tidur cukup luas buat berlima.

Aku pun mencari-cari hotel yang ada kolam renangnya, yang harganya terjangkau dan lokasinya. Setelah pencarian yang melelahkan, akhirnya kami dapat di Hotel Bandung Permai Jember.

Kami langsung menuju ke sana, dan diminta bayar langsung. Setelah selesai, kami pun bisa masuk ke kamar.

Untuk review Hotel Bandung Permai Jember bahas terpisah saja ya.

Alun-alun Jember

Acara mahasiswa selesai sore. Malamnya, kami keliling kota Jember. Karena kotanya kecil, jadi ya baru bentar juga udah kembali ke alun-alun. 

Salah satu tempat wisata gratis di Jember adalah Alun-alun Jember yang keren banget. Ada tivi layar lebar. Ada lampu-lampu. Ada banyak jualan makanan dan jajanan. Ada tempat bermain. Banyak juga tempat duduknya.


Kami duduk di pinggir beton pot sambil menikmati makanan yang sudah kami beli.

Masjid Jami’

Di dekat alun-alun, ada masjid Jami'. Tapi aku ambil fotonya pas siang hari. Baru kali ini aku melihat masjid Jami‘ yang unik bentuknya. Seperti gedung MPR kataku sih. Tapi yang bener seperti kopiah. Dan masuk ke tempat wudhu perempuan pun ada tempat sholat yang terpisah dengan ruang utama.



Keesokan harinya,..

Besoknya, aku masih menikmati istirahat di hotel setelah mengantar suami ke kampus. Anak-anak beristirahat sambil menonton film.

Perpustakaan Kota

Selain di kota besar, perpustakaan daerah hampir selalu Tutup. Tapi baru kali ini ada perpustakaan buka di hari Minggu. Keren banget. Meskipun tidak terlalu besar, tapi lumayan membuat anak betah dan anteng daripada harus menunggu di kampus. Hanya saja sayang banget AC nya di ruang anak mati. Jadi panas banget.

Anakku excited banget bisa baca banyak buku

Kami ke sana pun tidak bisa lama karena jam 3 sudah mulai tutup.

Bersiap Pulang..

Kami kembali ke kampus dan menunggu sampai acara selesai di kampus karena sudah check out hotel.

Meskipun kami nggak keliling ke tempat wisata, kami dan anak-anak jadi mengenal kota Jember. Dan itu jadi kenangan yang insyaallah nggak akan dilupakan.

Setelah Isya kami pulang ke Sidoarjo setelah bertemu dengan sepupuku yang ternyata baru pulang dinas dari Banyuwangi.

Sepupuku ini datang bersama temannya yang jadi guide naik gunung Ijen. Sepupuku juga sering banget naik turun gunung Ijen. Untuk teman-teman yang butuh guide naik gunung Raung atau Ijen bisa banget komen di bawah. Nanti aku tanyakan kontaknya.

Terima kasih. Sekian perjalanan ke Jember yang begitulah...

Read More

Setelah sekian lama nggak pergi ke pantai, akhirnya aku bisa pergi ke salah satu pantai Malang Selatan yang bagus. Namanya Pantai Teluk Asmara. Setiap pantai memiliki ciri khas yang berbeda meski berada dalam daerah yang sama yaitu Malang Selatan. Pantai Teluk Asmara ini merupakan wisata alam Malang yang berbeda dengan Pantai Ngliyep, Balekambang, Sendang Biru, Tiga Warna, Watu Leter atau Batu Bengkung


Perjalanan dari Kota Malang

Dari kota Malang, lama perjalanan bisa sampai 3 jam. Karena perjalanannya yang lama, aku jarang pergi ke pantai dengan keluarga inti. Biasanya bareng keluargaku atau keluarga suami. Kayanya kurang seru aja kalau cuma berlima.


Biasanya, kalau bareng uti akung, aku pergi ke pantai berangkat setelah sarapan sekitar jam 8 pagi. Karena aku pergi bareng keluarga suami, dan 'nebeng' mobil kakak, jadilah kami ngikut jadwal berangkatnya yaitu berangkat sekitar jam 4 pagi. Saat sholat Subuh kami berhenti di masjid.


Kenapa pagi-pagi sekali?


Biasanya kalau masih pagi, kondisi pantai tidak terlalu ramai dan tidak terlalu panas. Masih nyaman untuk bermain air. 


Perjalanan ke Pantai Malang Selatan tetap saja masih ada bagian yang jelek. Bahkan kami sempat melewati jalan yang sepi, jalan rusak, kecil dan hanya sawah dan ilalang di sekitar. Kami mengira salah jalan tapi ternyata benar.

 

Langit sudah mulai terang. Melihat matahari terbit sepanjang perjalanan memang menjadi hal yang menyenangkan. Biasanya masih di dalam rumah dan tidak melihat indahnya ciptaan Allah selepas fajar.


Tiba di Jalan Lingkar Selatan sekitar pukul 6 pagi. Kami memasuki jalan menuju Pantai Teluk Asmara.


Tiket masuk Pantai Teluk Asmara ini sekitar 10.000 per orang, mobil 15.000 (lebih mahal yaa, wkwk), dan motor 5.000. 


Pantai Teluk Asmara serupa Raja Ampat

Pantai Teluk Asmara ini berada di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Aroma pantai sudah tercium. Debur ombak pun terdengar.


Mobil melewati jalanan tanah cokelat bercampur bebatuan. Parkir mobil berada dekat dengan warung makan. Hati-hati melewati batunya karena cukup besar. Khawatirnya, ban jadi bocor. 


Kukira, kami akan menjadi pengunjung pertama. Nyatanya, sudah banyak mobil-mobil yang parkir. Tandanya, mereka lebih dulu sampai pantai. Hmm..


Untuk menuju ke pantai, kami harus berjalan kaki menaiki tangga. Melihatnya dari jauh saja aku sudah merasa lelah. 


Sayangnya, masih ada saja sampah-sampah yang sibuang sembarangan. Parahnya, ada sampah yang tak pernah kulihat di pantai-pantai lainnya. Sampah bungkus k*nd*m. 


Aku cuma bisa... wew...


Lanjut jalan lagi...


Pantai teluk Asmara Malang


Dari atas, tampak hamparan laut berwarna biru dengan ombak yang menerjang karang begitu menyegarkan mata berada jauh di bawah kami. Aku terkesima. Subhanallah indah sekali.


Tujuan akhir belum sampai. Kami masih harus menuruni tangga menuju bibir pantai. Jaraknya mungkin sekitar 500 meter. Bagi orang tua lansia yang punya masalah kaki memang harus ada pendamping agar berjalan hati-hati dan pelan-pelan. Bagiku tangganya sedikit curam.


Beberapa pengunjung juga berjalan pelan karena ingin memanjakan mata dengan pemandangan pantai dari atas. 


Persewaan alat camping

Tiba di tangga paling bawah, aku melihat banyak tenda-tenda terpasang di sebelah kiri. Di depan salah satu tenda, papan keterangan persewaan alat camping terbaca jelas. 


Pantas saja mobil-mobil sudah ada yang lebih dulu parkir. Ternyata mobil para pengunjung yang camping.


Sebagian pengunjung sedang masak-masak, makan dan memandangi pantai dari depan tenda.


Bermain pasir putih dan air laut yang kebiruan

Anak-anak tentu saja tak bisa menahan keinginannya untuk segera menyeburkan diri ke pantai. Sebelum angin pantai menerjang tubuh mereka, aku meminta anak-anak untuk sarapan roti dulu dan minum air putih.


Setelah mengisi perut sejenak, mereka berlarian tanpa alas kaki. Pasir putih ikut berloncatan serima dengan jeritan riang mereka. Kami berpesan agar tidak berenang terlalu ke tengah. Cukup di pinggir saja. 


Mereka menyeburkan diri ke air laut yang berwarna biru. Basah sudah wajah mereka diiringi tawa bahagia. Menikmati air laut yang asin dan sedikit peliket tapi tak jua menghentikan mereka untuk bermain air. 


Rekomendasi pantai di malang


Pasir-pasir sudah menyentuh rambut mereka. Meskipun Malang dingin tapi air laut tidak terlalu dingin pagi itu. 


Aku selalu terpesona dengan warna laut yang biru kehijauan. Di Kalimantan, hampir tak pernah kutemui warna laut seperti itu kecuali di pulau Derawan. Meskipun tidak bening seperti Derawan, warna air lautnya yang biru sangat menyenangkan. 


Di sisi lain, pulau-pulau kecil terlihat mengelilingi pantai seperti terisolasi karena tak bisa diakses kecuali dengan perahu. Lagian kalau aku lihat dari jauh, tidak ada apa-apanya di sana.


Tak heran kalau Pantai Asmara ini dijuluki Raja Ampat-nya Jawa Timur karena keindahannya. Selain warnanya yang biru, ada pulau kecil seperti bukit yang berada di pinggir pantai. Sesuai namanya, pantai ini berada di bagian teluk dan membuat air laut lebih tenang karena daratan di sisinya menjadi pelindung arus yang kuat.


Pantai malang selatan
Pantai dikelilingi pulau kecil


Anakku yang paling kecil terlihat takut-takut untuk melangkah maju. Ini pertama kalinya ia melihat pantai dan menjejakkan kakinya di atas pasir pantai yang putih.


Terlihat wajahnya yang penasaran tapi juga senang. Namun, ia tak berani melangkah lebih jauh. Matanya hanya menatap kakak-kakaknya yang bermain dengan sangat heboh.


Si kecil ditemani ayahnya menikmati ombak kecil yang sampai ke bibir pantai. Dia hanya berani jongkok saat ombak kecil datang kemudian berdiri lagi saat ombak pergi. Begitu bosan bermain air, dia bermain pasir, membentuk istana atau apapun.


Pantai teluk asmara malang
Gardu pandang Pantai Teluk Asmara


Di sisi pantai yang lain yang dibatasi oleh daratan, ombaknya lebih kecil dan lebih tenang. Hanya saja, pasirnya lebih hitam, kasar dan menusuk kulit. Sepertinya sisa-sisa ranting pohon.


Tidak banyak juga pengunjung yang menikmati pantai di sini.


Warung makan

Sayangnya, di sini tidak ada penjual gorengan wkwwk. Padahal pagi-pagi perut lapar, enak makan gorengan, hehe. Di warung dekat tempat parkir, menu makanan lebih bervariasi dan lebih enak.


Kami menikmati ikan bakar, cumi goreng di warung dekat tempat parkir. Rasanya juga lumayan enak.


Sedangkan warung di dalam lokasi, tidak ada makanan berat, terbatas hanya cemilan dan tidak ada makanan berat atau pun gorengan.


Toilet

Di dalam area wisata, juga sudah ada toilet tapi biasanya antri. Sedangkan di luar, toilet lebih banyak dan tidak antri.


Musholla

Karena kami berangkat pagi dan pulang sekitar jam 10an, belum masuk waktu sholat, jadi aku juga kurang tahu yaa mushollanya dimana. Hihi. Harusnya ada lah ya...


Jauh tapi worth to visit

Alhamdulillah capekkkk. Mari melanjutkan 3 jam perjalanan. Memang jauh banget sih tapi nggak sia-sia kok perjalanan yang jauh bisa dapat pemandangan Pantai Malang Selatan yang cantik.


Oiya waktu aku kesana, resortnya di atas belum jadi. Sekarang sudah jadi. Makin tambah keren lagiiii.. Pantai Teluk Asmara bisa jadi destinasi wisata Malang yang keren..

Read More

Follower