Aku baru menyadari bahwa sebenarnya tempat keluargaku di Sragen juga tidak jauh dari daerah pegunungan. Ciptaan Allah yang aku suka karena sejuk dan indah. Kalau mau berwisata di sekitar Gunung Lawu, aku bisa berkunjung ke Karanganyar. Kalau mau melihat Gunung Merapi dari kejauhan, aku bisa mengunjungi Selo, yang terdekat. 

Aku bisa katakan kalau Selo ini hampir mirip dengan Bandungan (Semarang), Kemuning (Karanganyar) atau beberapa bagian jalan di Kota Batu (Malang). Jalanannya naik turun, lebar jalan tidak terlalu besar, banyak obyek wisata, dan cuaca dingin karena berada di daerah pegunungan.

Tempat Wisata Selo

Perjalanan dari Sragen, kami tempuh sekitar 1 jam, melalui tol Sragen-Boyolali, kemudian naik ke Selo di Kabupaten Boyolali. 

Selo ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Boyolali. Meski tidak seheboh wisata kota Batu, Selo juga punya tempat wisata yang bisa dikunjungi, seperti :
  • New Selo, 
  • Bukit Sanjaya, 
  • Merapi Garden Selo, 
  • Ceepogo Cheese Park,
Kalau kalian pernah berwisata di Kota Batu yang sangat banyak, mungkin akan menganggap wisata di Selo ini terlalu mainstream. Bedanya, Selo jelas tidak semacet kota Batu kalau lagi libur akhir pekan atau libur panjang. Di Selo, hidup terasa lebih tenang dan Slow. Tak ada suasana yang terburu-buru. 

Keindahan Sepanjang Jalan

Setelah masuk ke kota Boyolali, mobil kami berbelok ke daerah yang sudah mulai sepi. pertanda bahwa kami sudah tidak lagi di dalam kota. Berbekal Google Map, mobil terus melewati jalanan yang terus menanjak dan meliuk. 

Di kanan kiri jalanan, kebun-kebun kobis yang berada di lereng terjal tampak indah dan menyenangkan mata. Sayuran khas Selo adalah adas yang biasa dibuat pecel. Di Selo juga banyak tanaman tembakau.

Merapi Garden Selo


Yang paling menakjubkan, pemandangan pegunungan berada di hadapan kami tampak begitu jelas dan indah. Di bagian kanan ada gunung Merbabu. Sebelah kiri tampak puncak gunung yang menjulang adalah Gunung Merapi. MaasyaAllah.

Itulah yang menjadi keunikan Kecamatan Selo ini adalah berada di antara dua kaki gunung, Merapi yang masih aktif dan Merbabu yang sudah tidak aktif. Keunikan ini memang bisa menjadi daya tarik karena para pendaki gunung Merapi juga bisa naik melalui Selo. Di sisi lain, lokasinya yang sangat dekat dengan Merapi ini bisa menjadi ancaman bagi penduduknya karena rawan bencana gunung meletus. 

Meskipun begitu, di Selo juga banyak villa-villa dan tempat glamping untuk menginap dan menikmati pemandangan Gunung Merapi. 

Kami sudah selesai melewati jalanan berliku. Kami pun tiba di jalanan yang lurus tapi terus menanjak. Hampir di sepanjang jalan, kami melewati cafe dan resto. Saat perjalanan itu, tiba-tiba mobil tidak bisa jalan meski gas terus diinjak. Duh!

Ternyata mesin mobil matic bapak tidak kuat kalau berada di jalan menanjak. Awww! Mau tidak mau, kami berhenti sejenak di pinggir jalan. Cuaca sudah mulai terik, meskipun berada di daerah pegunungan, tetap saja rasanya panas saat kulit terkena sengatan matahari. Kap mobil dibuka biar mesin tidak terlalu panas.

Kami pun menunggu sekitar 15 menit, kemudian kami jalan kembali. 

Merapi Garden Selo

Alhamdulillah, mesin mobil tidak rewel lagi. Kami pun terus jalan mengikuti Google Map yang tampak sudah hampir tiba di tempat tujuan. 

Awalnya, aku mengira salah jalan karena kami melewati jalan kecil dan menanjak meski kami sudah mengikuti Google Map. Di sebelah kanan, kami seperti berada di kaki gunung yang tinggi. Beberapa kali aku melihat tulisan "Jalur Pendakian Gunung Merbabu". Dan kami terus melewati jalan yang sepi, bukan jalan utama. 

Sampai akhirnya kami tiba di pertigaan jalan yang berada di tebing tinggi. Jalan yang lurus di depan kami berbatu, sepi dan menyempit. Sementara belok ke kanan, hanya untuk pengunjung glamping. 

Ternyata ada papan penunjuk tapi tidak besar menunjukkan "Merapi Garden Solo" di sebelah kiri, mobil pun belok ke kiri. 

Cafe View Gunung di Boyolali

Akhirnya kami pun tiba.

Merapi Garden Selo ini berada di area yang lebih tinggi dibanding pusat kegiatan di Selo. Dari tempat parkir mobil, kami bisa memandang Gunung Merapi di depan kami meski puncaknya tertutup awan.  Rumah-rumah penduduk terhampar luas di bawah kami. Kendaraan melewati jalan-jalan yang membentuk seperti jari menjangkau ke beberapa daerah. 

Cafe di Selo


MaasyaAllah. Rasanya hati ini ikut tersenyum melihat pemandangan yang indah itu meski kami tidak bisa melihat puncak Merapi. Sementara di belakang kami Gunung Merbabu, tapi karena tertutup dengan tebing jadi tidak terlihat jelas. 

Merapi Garden Selo


Sebelum masuk, kami pun berfoto di bagian depan pintu masuk yang bertuliskan Merapi Garden dengan pot bunga besar di sisi kanan dan kiri. 

Taman bunga yang indah 

Setelah itu, kami memasuki Merapi Garden dengan taman-taman bunga yang indah. Miniatur kincir angin menyambut kami di pintu masuk.

Gazebo-gazebo tampak terlihat dari kejauhan. Hijau dedaunan di taman menyegarkan mata. Tanaman berwarna kuning yang aku tidak tahu namanya dibentuk sedemikian rupa hingga membentuk tulisan Merapi. 

Tempat wisata Boyolali


Hamparan bunga warna-warni menjadi daya tarik wisata Merapi Garden Selo ini. Berbagai jenis bunga, dari Hortensia sampai Terompet tumbuh rapi hingga membentuk lansekap yang indah dan cocok sebagai spot foto yang instagramable. 

Di tengah taman ini ada kincir angin seolah-olah kita sedang berada di Belanda. Anak-anak langsung menyerbu sepeda antik dan berfoto di sana. 

Cafe view Merapi


Yang membuat obyek wisata Merapi Garden ini menarik adalah latar belakang Gunung Merapi yang tampak gagah jika tidak tertutup awan.

Di beberapa sudutnya juga ada gazebo-gazebo dan tempat duduk. Kita bisa beristirahat sejenak menikmati pemandangan Merapi dan bunga yang indah.

Photo addicted

Aku pun mulai memotret apa pun yang bisa aku potret. Ternyata keren juga, loh. Memotret bunga warna-warni, memotret kincir angin, ataupun memotret pegunungan dengan fokus bunga. Tempat ini memang cocok untuk fotografi. Anak-anakku hanya bisa berlarian ke sana kemari.

D'Garden Cafe di tengah taman

Kami pun segera menuju Cafe yang ada di tengah taman. Pengunjung belum terlalu ramai karena belum jam makan siang. Cafe ini ada dua lantai. Kami memilih lantai atas dengan harapan bisa menatap Gunung Merapi dan pemandangan di kaki gunungnya dengan lebih leluasa. 

Cafe ini sengaja didesain dengan penuh kaca agar pengunjung bisa leluasa melihat pemandangan gunung Merapi dan Selo di bawah.

Cafe view indah Boyolali


Ruangan Cafe ini ada indoor dan outdoor. Sebenarnya yang outdoor juga bagus dan cocok untuk perokok. Bisa menikmati hawa dingin Selo sambil menikmati sajian Cafe dan berfoto tanpa ada gangguan. Tapi aku memilih di dalam karena aku nggak mau masuk angin. Hehe. 

Menu cafe ini pun bervariasi dan menarik. Tidak hanya makanan ringan tetapi juga makan berat. Jadi kami bisa sekalian makan siang. Anak-anak sibuk keliling ke sana kemari. Sayang banget sih nggak ada wahana mainan sederhana atau playground. Capek lihat merek keliling, akhirnya Akungnya meminjamkan mereka hp buat nonton. haha. Setidaknya biar anaknya anteng untuk sementara.

Untuk harganya sih memang agak pricey sedikit. Rasa untuk makanan berat sih cukup alias B. Minumannya lumayan enak. Beberapa menu memang enak. Sayang banget nih aku lupa foto makanannya. Saking lapernya sih. 

Musholla dan toilet dekat Cafe

Di belakang cafe ini juga ada musholla meski tidak besar dan harus gantian, tapi cukup untuk suami dan anak-anak sholat berjamaah. 

Sebelum pulang, aku tidak lupa meminta anak-anak ke toilet dulu biar nggak perlu berhenti-berhenti lagi cari toilet. 

Kesimpulan

Memang Merapi Garden Selo ini cocok banget untuk tempat nongkrong atau menikmati hidup meninggalkan sejenak penat dan yang ingin santai selooww. Tapi, Merapi Garden Selo kurang cocok untuk anak-anak karena memang tidak ada wahana permainan. Jadi kalau mau ke sini bawa anak-anak, mending bawa sesuatu untuk aktivitas anak-anak, misalnya buku cerita, kertas untuk mewarnai, kartu, atau permainan lainnya. Karena dijamin anak-anak bakal bosen banget sih. Yah, tapi zaman sekarang sih, anak bosan di tempat wisata kasih aja hape. Wkwkwk.


Read More
Travelling ke Semarang memang hanya beberapa hari saja. Meski perjalanannya sangat singkat, tapi sebenarnya kenanganku di Semarang berlangsung hingga satu tahun tiga bulan. Salah satu yang ingin aku ceritakan adalah kisah di Simpang Lima.

Sumber : https://wisata.dyantransport.com/simpang-lima-semarang/


Sebelum aku kisahkan, jangan bayangkan ada kisah romantis di Simpang Lima. Tak ada sama sekali. Jadi bisa kalian skip saja tulisan ini karena tampaknya tidak begitu menarik hehe.

Tentang Simpang Lima, sudah sering aku dengar dari cerita orang-orang. Bahwa Semarang punya kisah heroik di dalamnya. 

Tentang Simpang Lima yang jadi ikon kota Semarang. Belum bisa dikatakan pergi ke Semarang jika belum menginjakkan kaki di Simpang Lima —dan juga Lawang Sewu.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasiku untuk terus melanjutkan studi di Semarang waktu itu. 

Kedatanganku ke Semarang pertama kali sebenarnya sudah jauh sebelum aku studi di Semarang, tapi kenangan itu benar-benar tidak bisa aku ingat. Entah saat studi tur atau kapan ya? Hmm... 

Sudahlah. Aku akan ceritakan apa yang aku ingat—bukankah inilah manfaat blog yaitu merawat ingatan tentang masa lalu dan masa kini?

Perjalananku dari Malang ke Semarang pertama kali dilakukan saat akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa pascasarjana jalur beasiswa unggulan. Aku dan beberapa teman menggunakan travel. Coba aku sebutkan siapa teman-temanku: Wulan, Fathima, Amanda, Indah, Saura, Vira, dan... siapa lagi ya? Aku lupa haha...

Kalau kalian masih ingat, kita berhenti di Simpang Lima saat siang hari—entah naik angkot, bus kota, atau motor?
Panas-panas, kita berfoto di depan papan bertuliskan SIMPANG LIMA SEMARANG.

Seperti layaknya alun-alun kota di masa itu (yang pernah kutahu), tak ada apa pun di Simpang Lima. Beda dengan alun-alun kota Malang yang saat ini selalu ramai pengunjung. Pun di masa itu, sekitar tahun 2010an, alun-alun kota Malang juga masih sepi. Benar-benar monoton. Jadi kami hanya berfoto saja di sana.

Kenapa disebut Simpang Lima?

Tanpa harus mencari tahu, kita bisa menduga bahwa namanya simpang lima pasti berada di lima persimpangan jalan.

Tapi bayangkan saja, kita jalan berada di Lima persimpangan. Apa nggak bingung tuuh? Saat pertama kali ke Semarang, tentu dong aku bingung. Saat motor sudah sampai di Semarang dan berjalan-jalan ke kawasan Simpang Lima, beberapa kali aku salah jalan.

Sumber : TravelsPromo


Karena Simpang Lima ini berada di pertemuan lima jalan : Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajahmada dan Jalan K.H. Ahmad Dahlan.

Tapi sebenarnya tetengernya gampang banget sih. Misalnya, untuk ke Jalan Pandanaran menuju pusat oleh-oleh Semarang, seperti lunpia, bandeng Juwana, moci dll, kita harus melewati warung kuliner-kuliner, Gajahmada Plaza dan sebelum Masjid Raya Semarang.

Kalau ke Jalan Gajahmada, ke kawasan kuliner juga, setelah masjid Raya Semarang. 

Kalau ke Jalan Pleburan, menuju ke Semarang atas atau Undip, melewati Mall Ramayana.

Yang pertama kali ke Simpang Lima memang pasti bingung. Baca Google Map pun harus hati-hati karena bisa jadi kelewatan hehe.

Sejarah Simpang Lima

Sebelum Simpang Lima menjadi sekarang, tanahnya dulu adalah rawa-rawa. Kemudian Ir. Soekarno mengusulkan untuk menjadikannya alun-alun karena alun-alun di kawasan Kauman sudah berubah jadi pusat perbelanjaan.

Sedang di kawasan Simpang Lima saat ini sudah dipenuhi gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan dan hotel. Ada juga masjid jami' di dekatnya.

Oiya asal konsep alun-alun ini sebenarnya– seperti alun-alun pada umumnya di kota Jawa– merupakan pusat kegiatan kota dalam konsep Jawa-Islam, yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada masa pemerintahan Majapahit-Mataram. 

Alun-alun berupa lapangan terbuka yang berada di antara kantor pemerintahan (kantor bupati), pusat relijius (Masjid Jami'), dan pusat perbelanjaan. Beberapa kota masih menggunakan konsep ini seperti Bandung, Malang, Solo, Yogyakarta. Cirebon gitu masih kali ya?

Lapangan di Simpang Lima ini disebut Lapangan Pancasila tapi kawasannya disebut Simpang Lima.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Simpang Lima

Dulu, aku cukup sering melewati Simpang Lima, tapi sebenarnya tidak banyak momen yang bisa aku nikmati di Simpang Lima. Dan tidak banyak hal yang bisa aku lakukan di Simpang Lima. Karena memang ya... ngapaaiinnn sampai bingung sendiri. Haha.

Tapi kalau kalian travelling ke Semarang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Simpang Lima yaitu:

Piknik

Piknik ini sebenarnya paling gampang bawa potluck masing-masing dan bawa alas duduk. Saat piknik bisa sambil mengobrol, baca buku, main gitar, hapean juga. Hehehe.

Main Sepatu Roda

Dulu, aku penasaran naik sepatu roda malam hsri. Ternyata susah banget. Haha. Beberapa kali nyoba memang bisa jalan pelan tapi tidak lancar. Harganya seingat saya dulu 10ribu kali ya. Seperti biasa, yang jual jasa adalah masyarakat sekitar seperti pada alun-alun di kota lain. 

Yang paling menakutkan sebenarnya kalau kebablasan meluncur sampai melewati trotoar di Simpang Lima. Soalnya trotoarnya tinggi sekitar sepaha. Memang beberapa bagian ada pagar besinya tapi tetep takuuut. Belum lagi ramai anak-anak yang juga main sepatu roda, sepeda hias. Takut nabrak, takut jatuh. Hehe. Tapi seru.

Night Walking

Night walking kalau jalan kaki mengelilingi Simpang Lima memang capek banget, kecuali kalau memang niat olahraga. 

Jadi kita bisa sewa mobil hias, sepeda hias dengan desain bermacam-macam atau naik skuter. Kita bisa menyetir mobil hias sendiri tapi hati-hati jangan sampai kebablasan. Hehe.

sumber: RadarSemarang.id 


Mobil hias ini juga dilengkapi dengan speaker musik jadi bakal ramai banget. Haha.

Harganya sekitar 35-40ribu.

CFD

Sebenarnya aku tidak ingat apakah pernah ke CFD Semarang atau tidak. Di Simpang Lima ini setiap hari ahad juga diselenggarakan CFD. Dan kebayang pasti ramai sekali. 

Wisata Kuliner Malam Hari

Surganya kuliner di Semarang ada di kawasan Simpang Lima. Awalnya, pinggiran jalan Simpang Lima merupakan pedestrian yang cukup lebar. 

Waktu masih awal kuliah di Semarang, belum ada warung kaki lima ini. Saat aku kuliah di Prancis, sekitar tahun 2012, di malam hari, pedestrian itu diubah menjadi tempat kuliner. Baru bisa kunikmati setelah pulang dari prancis sekitar tahun 2013.

Menurutku menunya cukup lengkap. Mulai dari nasi goreng, tahu gombal khas Semarang, soto, nasi padang, bakmi jowo, pokoknya banyakkk. Harganya juga masih normal kok. Nggak mahal. Sekitar 15- 30ribu tergantung menunya yaa.

Melihat Pentas Seni di waktu tertentu

Pernah suatu waktu, entah bagaimana, aku berada di Simpang Lima bersama teman kosku. Saat itu sedang ada panggung besar. Simpang Lima memang sering digunakan untuk konser atau pertunjukan seni.

Saat aku ke sana, ada pertunjukan wayang orang. Jadi aku dan temanku keliling sekitar panggung. Kami nggak sempat menonton kalau nggak salah belum mulai, tapi kami malah berfoto bareng dengan pemain wayang orangnya. Haha.

Para pemain wayang orang di depan Simpang Lima. Hanya foto. Foto sy sudah hilang.  (SindoNews)

Sudah Pernah Simpang Lima Semarang?

Berkunjung ke Semarang emang wajib banget deh pergi ke Simpang Lima atau kuliner di sekitarnya. Memang ikonik banget. Apa kalian sudah pernah ke Simpang Lima Semarang? Ngapain aja di sana? 
Read More
Menjelajahi Semarang, yang aku ceritakan di pos sebelumnya, menjadi satu bagian membuka lembaran masa lalu. Apa yang paling kurindukan—dan belum tentu ada di Sidoarjo—adalah menikmati kuliner Semarang, bakmi godok plus sate babat kecapnya. Ketika masih jadi budak korporat dulu, jika tidak lemburan menyelesaikan dokumen rencana yang hampir sangat jarang terjadi, aku pulang setelah sholat maghrib, berjalan kaki menuju warung tenda bakmi Semarang yang sudah ramai pembeli. Biasanya, aku beli bakmi Jowo/ bakmi godok, bihun, sate babat, dan sate jeroan. Ada juga sedia nasi goreng. Yang paling khas, semua menu dimasak tidak pakai gas, tetapi pakai arang, yang bikin rasanya lebih sedap. 

Setelah bertahun-tahun tidak mengunjungi Semarang, aku—mengajak keluargaku—bernostalgia di sana. Sayangnya, sesampainya di sana, warung tenda itu sudah tidak ada. Aku mengira memang sedang tutup, tetapi tidak tanda-tanda bahwa warung masih stand by di sana. Soalnya tidak ada tanda-tanda apa pun.

Sedih, sih. Entahlah beneran tutup atau tidak. Yang jelas kami tidak bisa mencicipi bakmi khas Semarang. Akhirnya, rencana selanjutnya yaitu mencari penjual bakmi jawa terkenal di Semarang melalui penelusuran Google. Pilihannya cukup banyak. Mataku tertuju pada satu nama Bakmi Jowo Pak Doel Noemani dan punya cabang di tempat yang tidak terlalu jauh Bakmi Jowo Dul Numani.

Tanpa pikir panjang dan sudah mager cari tempat lain, kita menuju ke sana. 

Lokasi di Jalan Utama Semarang

Aku tidak terlalu bingung mengarahkan jalan pada suami karena aku masih sangat hapal. Hanya saja perlu patokan lokasi persisnya Bakmi Jowo Semarang Terdekat Doel Noemani.

Google Map menjadi teman setia saat perjalanan. Haha. 

Nggak expect sama sekali tentang tempatnya. Yang penting, perut kenyang karena sudah lapar (tidak recommend sebenarnya makan bakmi godog kalau lagi lapar, hehe). Sampai di tempatnya, aku agak terkejut karena ternyata ramai sekali. Wah pasti ini bakmi godog enak di Semarang. Lihat di ulasan Google emang bener.

Warung pertama dekat di belokan Jalan, di depannya Mall Paragon. Akhirnya kami cari di cabang satunya, depan hotel Amaris dan disamping SMA 5 Semarang.

Warung ini berada di depan bangunan perkantoran yang berarsitektur kolonial. Tapi tidak jelas kantor apa? Mungkin sudah tidak aktif? Di Google kantor yayasan begitu.

Beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Petugas parkir pun mengarahkan kami parkir di dalam. Tempat parkirnya sebenarnya cukup menampung banyak kendaraan tapi tetep aja kami parkir di depan mobil lain yang sedang terparkir jadi tidak boleh di hand rem.

Tak hanya Mi Godog



Meskipun warungnya bernama Bakmi Djowo tapi di warung ini tidak hanya menjual Mi saja tapi juga menu nasi seperti Bakmi Godog, Bakmi Goreng, Bakmi Nyemek, Mihun (Godog, goreng, nyemek), nasi goreng, nasi godog, nasi ruwet (ada campuran mie), cap Jay (goreng dan godog).

Bedanya apa? 

Perbedaan godog dan nyemek ini terletak pada kuatnya. Kalau bakmi godog menggunakan mie kuning dilengkapi sayur, ayam, telor, dituang dengan kuah kaldu ayam kampung encer agak banyak. Sedangkan bakmi nyemek, kuahnya kental dan sedikit. 

Bakmi Godog


Kalau perbedaan bihun dan bakmi terletak pada jenis mie yang dipakai. Kalau bihun ya pakai Mi bihun itu.

Kalau aku suka godog karena enak segar dan hangat. Cocok banget kalau lagi perjalanan jauh. Kalau kalian suka godog atau nyemek?

Oiya, jangan sampai lupa, yang sangat menggiurkan dan khas itu adalah sate kulit, sate uritan dan sate jeroannya yang dibalur kecap. 



Alhamdulillah meski keturunan juga makan bakmi godog dan sate kulit kecapnya. 

Lesehan atau Duduk di Kursi?

Saat kita tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang sedang menunggu pesanan dan menyantap makanan. Selain duduk di kursi, pengunjung juga bisa duduk lesehan di latar bangunan perkantoran.

Karena kami sedang dalam perjalanan, lebih nyaman kalau duduk lesehan agar lebih santai dan bisa selonjorkan kaki.

Memilih lesehan karena meja penuh

Sekitar 20 menit akhirnya pesanan kami datang. Makan bakmi dan satenya. Jangan lupa tambahkan acar timun dan cabe hijau biar mata makin melek nggak mengantuk. Haha.

Susahnya kalau lesehan itu air minum rawan tumpah. Maklum bawa anak kecil yang ngga bisa diam. Kesabaran emaknya diuji banget deh. Tapi bersyukur juga mereka tidak rewel. Cuma mereka nggak sabar aja karena pesanannya cukup lama datangnya. 

Emang paling aman sih kalau sama anak kecil duduk di kursi aja. Biar minuman dan makanan yang banyak kuah itu tidak kesenggol dan tumpah.

Rasa Bakmi Godog

Kalau kalian pencinta gurih, mungkin bakmi godog di sini, menurutku, cenderung sedikit lebih manis (nggak terlalu manis ya). Tetep sih rasanya gurih dari kaldu ayam kampung juga terasa sedepp. 

Nah kalau kalian porsi makannya banyak. Satu piring nggak bakal cukup. Haha. Aku pun merasa masih belum kenyang tapi karena dalam perjalanan yang isi perut 50% angin dan air, jadinya perut masih terasa kenyang. Hehe.

Pembayaran cash

Waktu itu aku tidak tanya-tanya berapa harga per menunya. Aku langsung bayar saja. Hehe. 
Kalau lihat di ulasan, harga menu makanan bakmi godog Dul Numani berkisar 25.000 per orang, kalau pakai minum dan 2 tusuk sate sekitar 35ribu. Oiya, di warung bakmi godog ini tidak menerima pembayaran digital jadi harus cash. Emang sih waktu itu aku juga bayarnya cash. Mungkin di cabang lain masih menerima pembayaran digital, aku kurang paham juga. Kalau kalian datang ke sini nanti coba ditanyakan saja dulu sebelum memesan makanan.

Semakin malam semakin banyak pengunjungnya, kami sesegera mungkin menyelesaikan makanan. 

Alhamdulillah akhirnya keturunan juga makan bakmi plus sate kulit dan jeroan. Hehe.
Read More
Sepanjang jalan Solo-Semarang adalah kenangan. Menjumpai bus hilir mudik mengembalikan ingatanku 10an tahun silam. Pernah menjadi penumpang yang susah payah berebut kursi untuk sampai ke Tembalang. Duduk berlama-lama di kursi samping jendela dengan mendekap tas berisi laptop yang di zaman itu didesain cukup berat.

Hari ini, aku tidak lagi menjadi bagian itu. Hanya melewati kenangan saja. Sementara saat ini, aku duduk manis tanpa harus bersusah payah seperti di zaman itu. 

Hari ini, tak lagi melakukan perjalanan sendiri. Dalam waktu 10-an tahun setelah kelulusan, cita-citaku menjadi pendidik dikabulkan Allah—tepatnya menjadi pendidik keluarga:  pendidik 3 Ahmad.

Allah memang Maha Baik. Dia tak ingin aku bersusah payah dengan segala kondisi aturan saat ini. Semua sudah diatur olehNya semenjak aku memutuskan memilih jurusan. Aku tak pernah berprasangka buruk meski di sekitarku seolah menyesali atas hidup yang kupilih. Tidak. Allah tahu mana yang terbaik. Allah tahu hambaNya. 

Kenangan Perjalanan selama di Semarang

Sepanjang jalan Ungaran‐Banyumanik-Tembalang, mataku tak lepas dari segala hal yang pernah kulewati dulu. Perjuangan tak pernah kulupa. Memoriku kembali.

Terminal Banyumanik

Kenangan tentang terminal Banyumanik tidak begitu banyak tapi aku pernah merasa sedikit waswas saat berada di sana. Aku lupa tepatnya kejadian apa itu. Kuingat, malam hari, aku berada di dalam terminal Banyumanik menunggu sesuatu—mungkin bus? 

Entahlah. Potongan-potongan memori itu tidak begitu jelas. Aku duduk di sebuah warung atau toko sedang membanyar sesuatu—entah makan atau tiket bus? 

Saat itu, mungkin aku sedang menunggu bus. Sepertinya atau travel? Aku lupa. Saat itu, jalan-jalan sedang ramai mudik menjelang lebaran. Aku tidak pulang ke Kalimantan, sebab kalau pulang aku pasti akan naik dari bandara Ahmad Yani. Mungkin aku akan pulang ke Sragen.

Pertigaan Tol - Swalayan ADA Srondol

Swalayan ADA pernah menjadi tempatku melupakan penat sejenak setelah digempur tugas dan les. Bukankah cuci mata dan berbelanja adalah hiburan para wanita? Meski kadang, aku tak membawa pulang apa-apa.



Jalanan di depan swalayan ini lebih lebar dan kadang lengang. Kendaraan-kendaraan memilih berhenti di lampu merah untuk belok ke jalan tol atau lurus menuju Tembalang. 

Di pertigaan ini, tempat aku biasa turun dari bus dan lanjut mencari angkot menuju Tembalang. 

Lucunya, aku masih tak ingat, apalah kejadian ini ketika aku mau mudik atau sekembalinya dari mudik lebaran. Bus yang kunaiki mencari jalan kembali ke jalan besar. Karena ada sesuatu hal yang membuat mereka berputar-putar di jalan kampung mencari jalan tembus swalayan ADA ini. Kebetulan saat itu aku duduk di barisan ketiga dari depan. Bus terus mencari jalan dan terkadang harus putar balik karena salah jalan. Betapa merepotkannya. Di jalan kecil, kendaraan besar itu harus putar balik. Beberapa kali menjadi sumber kemacetan. 

Jangan bayangkan di waktu itu sudah mudah akses Google Map. Sebab tak semua orang punya Android. Saat itu ponsel Android masih dianggap mewah. Aku pun masih memakai ponsel qwerty Nokia. Kalau tersesat, siap lihat papan penunjuk jalan atau tanya orang.

Sebab aku pun mulai berada di ambang batas sabar, tidak segera sampai tujuan, tanpa diminta aku langsung berkata, "Lewat sini, Pak. Belok kanan, Pak. Terus aja, nanti belok kiri."

Di jalan-jalan kampung yang sering kulalui itu, tanpa pikir panjang, aku menjadi guide dadakan. Kok, yaa bapaknya menurut saja tanpa protes. Aku mengarahkan jalan hingga bertemu dengan jalan besar, dekat dengan pertigaan Tol dan Swalayan ADA.

Alhamdulillah tanpa drama harus putar balik atau membuat jalan-jalan kecil itu macet, bus bisa keluar jalan besar dan aku segera turun dari bus. Tanpa kusadari, hal remeh temeh itu ternyata membuat kernet dan supir bus berterima kasih padaku seolah aku telah melakukan hal yang besar saat itu. Tidak. Sebenarnya karena aku tidak sabar saja. Kalau aku sabar mungkin aku hanya diam saja. 

Dari situ, aku sadar bahwa: "Jangan biarkan orang lain bingung. Mungkin mereka tak butuh bantuan. Tapi inisiatif seseorang ternyata bisa sangat membantu mereka."

Undip Tembalang

Tentu saja, ini menjadi ikon utama kenangan-kenanganku selama studi di Semarang. Tahun pertama, kosku masih di dekat gerbang masuk Undip. Tahun kedua lebih jauh lagi tapi masih area Tembalang.

Rupanya tidak banyak perubahan sepanjang perjalanan dari patung Kuda Pangeran Diponegoro sampai Gerbang Undip. Hanya beberapa bagian yang mengalami penambahan bangunan dan renovasi. Berbeda dengan kota Malang yang sangat cepat sekali perubahannya.

Di sini, aku mengantar suamiku ke tempat acara. Mobil aku bawa kalau misal sudah selesai makan, aku bisa keliling bersama anak-anak. 

Anak-anak kuminta menunggu sebentar sembari menghabiskan makanannya. Mereka merengek mungkin merasa tidak nyaman berada di tempat asing tanpa ada keluarga yang menunggu. Tapi makanan mereka belum habis. Rasanya tidak mungkin juga kalau meninggalkan makanan yang baru datang. Dikira tidak dihabiskan dan dibereskan. 

Janjiku pada mereka tidak akan lama. Aku juga meminta bantuan mbak kasir yang ramah dan selalu tersenyum untuk melihat anak-anak yang sedang makan. Syukurlah ia bersedia. 

Aku pun mengantar suami dulu, melewati jalanan kampus yang pernah kulalui dulu dengan motor. Pepohonannya yang tinggi masih bertahan sampai sekarang. Areanya yang luas masih sama. Tak banyak bangunan yang bertambah. Hanya bangunan-bangunannya direnovasi, sama seperti gedung kuliahku dulu. Hampir sama sepetti kampus UNS, memasuki kampus UNDIP tidak terasa sesak karena pepohonan masih banyak.

Setelah mengantar suami ke gedung yang tak jauh dari gedung kuliahku dulu, aku pun segera kembali ke rumah makan. Aku tidak menggunakan Google Map sebab kukira aku pasti hafal jalanan. Papan arah juga banyak. Eh tapi bukannya makin cepat pulang, aku malah tersesat ke fakultas lain. Hahah. Akhirnya aku membuka Google Map. Parah sekali sampai lupa arah pulang di kampus sendiri.

Sesampainya di rumah makan, aku menyuapi si kecil dan menghabiskan makananku. Tak terasa sudah satu jam. 

Setelah selesai urusan makan, aku mengajaknya ke masjid. Kami menunggu di masjid Undip saja. Selain sholat dan istirahat, aku bisa memandikan si adik sebelum perjalanan pulang nanti sore. Hihihi.

Tak terasa sudah dua jam menunggu, chat dari suami memberi kabar bahwa acara selesai. Kami pun menjemputnya. Sebelum meninggalkan kampus masa lalu, (mobil) kami berfoto di halaman depan rektorat Undip yang tampak Pangeran Diponegoro berkuda. Akankah selanjutnya Undip menjadi tempat menuntut ilmu terbaik untuk suami? Semoga Allah berikan petunjuk.


AKPOL

Kenangan satu ini tak akan kulupa. Karena di belakang AKPOL ini, aku sempat ngekos dan bekerja di kantor konsultan perencanaan kota. Tanpa motor, hanya berandalkan ojek di ujung jalan (bukan ojol) saat pergi kemana-mana. Kalau tidak, berjalan kaki lebih hemat. Aku bahkan sempat berjalan kaki dari kos ke hotel Patra untuk berenang sebab hanya itu kolam renang terdekat. Hotelnya bintang lima tapi jalan kaki. Haha. Hemat tapi mewah. 

Versi hematnya, biasanya aku berenang di kolam renang GOR Semarang. Murah tapi ramai. Oiya, aku terongat saat masih kuliah, aku juga sering berenang di Bukit Villa Mas.

Simpang Lima

Tak mungkin melewatkan satu ikonik Semarang ini jika kita sedang di kota Lunpia itu. Simpang Lima adalah tempat-tempatku membuang penat, menyewa sepatu roda, menonton pertunjukan seni, atau apa pun yang ada di sana. Di sekelilingnya, banyak pujasera di pinggir jalan dengan variasi kuliner.

Simpang Lima (Sumber: Travelspromo)


Eh tapi kali ini, sebab kami semua terlalu lelah di hari pertama setelah jalan-jalan ke Celosia, kami hanya melewati Simpang Lima. Tentu saja anakku pada heboh ingin main-main di Simpang Lima yang ramai dengan penjual mainan, sewa odong-odong lampu, sewa sepatu roda dan lain sebagainya. Maafkan, Nak. Besok masih harus perjalanan jauh. Kita segera pulang saja ke penginapan Sun Apartement. Haha.

Lawang Sewu

Malam hari, Lawang Sewu selalu tampak indah dengan lampu-lampunya yang menerangi setiap sudut bangunan. Tak ada kata seram melewati bangunan kuno itu meski kisah mistisnya sudah tersebar. Eh, tapi aku tetap tidak mau mampir meski siang hari bersama anak-anak setelah kedatanganku duluuu di Lawang Sewu. Cukup sekali saja. Haha. Aku hanya mengenalkan cerita tentang Lawang Sewu pada anak-anakku.


Jalan Pemuda

Pikiran penatku ketika harus mengerjakan tugas mata kuliah Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan, mendorongku untuk berkeliling Semarang sendiri. Kadang sendiri. Kadang bersama temanku. 

Kadang ke Mall Paragon yang dekat ke Jalan Pemuda, kadang mutar-mutar menghabiskan Premium, bensin zaman dulu.

Jalan protokol utama ini menjadi kawasan bisnis, perdagangan, kuliner dan tempat nongkrong. Dulunya, aku hanya melewatinya saja setelah dari Mall Paragon. Jangan bandingkan Mall di Semarang dengan di Surabaya karena hanya dalam setengah jam kalian sudah mengitari seluruh mall.

Saat bersama keluarga, aku mengunjungi penjual Bakmi Godog yang terkenal di Semarang. Tempatnya ramai yang berada di bangunan kantor, sayangnya parkir mobil sempit. Jadi harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Nanti aku ceritakan deehhh.

Lunpia Cik Me Me

Dulu, beberapa kali mencicipi lunpia Semarang di daerah Pandanaran, aku tidak terlalu menikmatinya karena selain harganya yang cukup mahal (sekitar 15-20ribu satu biji), isinya besar dan rasanya kurang cocok di lidahku yang cenderung gurih ini. Suamiku pun tidak terlalu menikmatinya. Ketika kami ke Semarang sebenarnya outlet Lunpia ini tidak menjadi destinasi kami. Namun, karena saudara rekomendasi Lunpia Cik Me Me akhirnya kami membelinya. Ternyata ukurannya lebih manusiawi. Apakah ukurannya juga mengalami efisiensi? Hehe. Rasanya juga lumayan gurih dibanding dulu yang pernah kurasakan cenderung manis.

Semarang Kaline Banjir

Mengunjungi Semarang sebenarnya memunculkan harapan baru yang meluap layaknya kali (sungai) yang banjir. Namun, akan ada waktunya kali itu surut dan mengalir ke laut. Kapan mulai meluap lagi mungkin tergantung musim hujan yang datang :D Hanya kami yang tahu. Dan sampai saat ini hilal belum tampak untuk mewujudkan harapan itu dan dimana hilal akan tampak. 

Read More
Sepulangnya dari Celosia, kami lanjut ke kota Semarang di mana kami sudah booking hotel. Cerita mencari penginapan ini tidak sesulit mencari jodoh. Eeeh bukan. Maksudnya tidak sesulit mencari villa di Telaga Sarangan. Haha. Soalnya kami hanya keluarga kecil yang maunya nggak banyak-banyak. Yang penting ada "ada kolam renang". Sesederhana itu emang bahagia kami. Hihi. 

Dari berbagai macam jenis hotel Semarang dengan fasilitas kolam renang, dari yang mahal sampai yang menengah, aku mencari kolam renang yang anti mainstream yaitu di atas gedung tinggi. Aku udah bayangin anak-anak pasti seneng banget.

Alasan Memilih Sun Apartment Semarang

Sebenarnya banyak pilihan penginapan dengan kolam renang di Semarang tapi setelah melihat review pengunjung dan harganya, akhirnya kami memilih penginapan di Sun Apartment Semarang. 


Beberapa alasan memilih Sun Apartment yaitu:

Harga Terjangkau

Karena kami tidak akan berlama-lama di penginapan, malam baru sampai penginapan dan besok paginya sudah ke tempat acara, kami mencari penginapan yang harganya terjangkau, fasilitas cukup buat kami. Kalau tidak salah, rate per malam 250ribu atau 200ribu ya lupaaa booking via WhatsApp. 

Kamarnya deluxe city view tanpa sarapan yaa karena emang kita mau kuliner pagi-pagi di Semarang. Tapi tetap aja kulinernya rawon dan soto hahaha. Sebagai orang yang lama tinggal di Kalimantan dan jawa Timur yang cenderung gurih, kuliner Semarang ini manis-manisss.

Gedung Tidak Menyeramkan

Serius. Beberapa penginapan bahkan apartemen yang aku cari dengan rate segitu kadang terlihat menyeramkan. Apalagi apartemen yang jarang penghuninya. Ulasan dari pengunjung lain sangat berguna banget buatku. Aku tahu kira-kira gambaran penginapannya gimana.

Sun Apartment ini tidak menyeramkan karena sebenarnya satu gedung dengan Hotel Horison Semarang. Di bagian bawah gedung, pintu masuk hotel Horison, sedangkan pintu masuk Sun Apartment aksesnya lewat parkir mobil. 

Petugas ramah dan memberikan video cara jalan menuju ke apartemennya agar kita tidak bingung.

Ketika masuk ke ruangan pun, bangunannya sebenarnya memang biasa saja. Pintu kamar dan memang sepi. Resepsionisnya pun di ruangan sendiri. Sederhana. Pegawainya ramah. 

Lokasi Strategis

Karena dulu waktu kuliah, beberapa kali berkunjung ke Java Mall dan cukup hafal dengan Semarang, aku tidak terlalu sulit menemukan lokasi hotelnya dan amenities di sekitarnya. 

Aku masih hafal jalan-jalan dari Ungaran-Tembalang-dan Semarang bawah. Setiap jalan yang kulalui mengingatkanku pada perjuanganku kuliah dulu. Saat weekday, aku harus kuliah di Undip Tembalang. Saat weekend, aku harus les bahasa Prancis di Semarang bawah. Semua kulakukan selama hampir 1 tahun. Kembali ke Semarang sangat membuat hatiku trenyuh. Rinduuu. Ya Allah segitu berjuangnya akuuu demi impian yang ingin kugapai: kuliah di Prancis. Yang akhirnya Allah izinkan aku kuliah di Paris Nanterre dengan segala dinamikanya. 

Lokasi Sun Apartment ini sangat strategis karena di tengah kota, dekat Java Mall, di sekitarnya juga banyak tempat makan. Kami juga sengaja ambil hotel Semarang ini karena tidak begitu jauh dari Undip Tembalang dan tidak jauh dari Simpang Lima Semarang.

Fasilitas Sederhana

Fasilitas kamar memang sederhana tapi menurutku cukup dan sesuai kebutuhan. 


Saat kami memasuki kamar, kami melihat kitchen set tanpa ada isi apa pun. Sepertinya memang cocok untuk kalian yang akan lama di sini dan membawa perlengkapan memasak.

Ada tempat cuci piring karena memang konsepnya kamar apartemen. Beda dengan kamar hotel. Ada kulkas di dalam lemari dan mini bar dengan kursi. Di atasnya ada dispenser cuma di foto di atas pas nggak ada. Aku lupa foto waktu di sana. Kalau foto di bawah ini beda tidak telrihat kitchen setnya. Cuma secara keseluruhan hanpir sama.



Fasilitas kamar yang kami dapatkan:
  • Kasur Queen size bed yang nyaman
  • Dispenser berisi air. Lumayan banget buat menghangatkan tubuh dari luar.
  • Welcome snack. Snackmya sih sederhana. Ada teh, kopi, gula, satu indomie. Aku lupa ada chiki apa ngga yaa.
  • Smart TV dan Akses WiFi. Anak-anak happy banget dong ada TV. Mereka sampai kamar langsung nonton TV sambil istirahat di tempat tidur. Nyaman Banaarrr.
  • Perlengkapan mandi (handuk, sikat gigi, sabun, shower)
  • Kitchen set sih tapi nggak ada kompor wajan dll yaa.. cuma kayak dapur aja. Ada tempat cuci piring.
  • AC. Seingetku AC nya sedikit apa ya.. nggak bisa disetting. Pas banget arahnya ke tempat tidur jadi agak nggak enak juga kena AC langsung.
  • Kulkas
  • Meja dan kaca

Kolam renang di atas gedung

Yang paling 'mewah' sih sebenarnya bisa berenang di atas gedung. Kolam renang ini merupakan bagian dari Hotel Horison tapi penghuni apartemen boleh memiliki akses kolam renang ini. 



Jadi kalau mau ke kolam renang ini kita naik lift untuk pengunjung hotel Horison. Jadi kita memasuki pintu menuju gedung Hotel Horison. Nah, bedanya terlihat banget karena lorongnya berkarpet, lampunya sendu, dan desain interior dinding per kamarnya juga eksklusif. Bagi kami sih udah cukup banget bisa ikut berenang di kolam renang di atas gedung. 

Ketika berada di kolam renangnya, aku sangat terkesima dengan pemandangan kota Semarang dari ketinggian. Sebenarnya kalau malam hari lebih keren lagi tapi kalau tidak salah jam aksesnya terbatas dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam.

Aku bisa melihat masjid Jami' Semarang yang jadi destinasi kami bersama anak-anak. Cuma aku nggak ceritakan lagi deh. Udah pernah aku tulis dulu.

Kolam renang khusus anak-anak juga lebar, begitu juga kolam dewasa. Anak-anak bisa puas bermain-main air ke sana kemari. Sedangkan untuk kolam dewasa memang kurang luas apalagi kalau orang dewasanya banyak yang berenang. Meskipun begitu kolam renang ini menurutku lebih luas daripada kolam renang di Hotel Best Western Bandung.

Kamar dengan City View

Salah satu alasan kami memilih Sun Apartment adalah memilih kamar dengan city view. Untuk office berada di lantai 9. Dan kamar kami tidak jauh dari office-nya. Ternyata city vew dari kamar mentok banget ke Java Mall dan jalanan berbukit. Haha. Bukan ke arah tengah kota. Yaudahlah. Setidaknya lihat aktivitas orang di bawah sana. Wkwkwk.

Mau menginap di sini lagi?

Kalau ditanya bakal menginap ke Sun Apartment lagi nggak? Tergantung sih. Bisa iya bisa tidak. Haha. Kalau akan lama di hotel mending cari yang lain tapi kalau cuma sejenak numpang tidur aja dan pengen berenang di kolam renang dari ketinggian, masih oke aja kok. 
Read More
Perjalanan ke sebuah tempat yang menurutku membuat hatiku campur aduk itu saat kembali ke kota tempat menimba ilmu. Kali ini, Allah memberiku kesempatan untuk kembali ke Semarang untuk beberapa hari, bersama anak-anak dan suami.

Perjalanan panjang karena ditempuh selama kurang lebih 6 jam dari Waru, Sidoarjo, sebenarnya terasa melelahkan, tapi karena memang niatnya jalan-jalan, jadi tetap terasa menyenangkan. Alhamdulilah juga kami diberi nikmat sehat jadi perjalanan jauh pun tidak terasa begitu capek. Kami pun tidak langsung ke Semarang, tetapi ke Bandungan, Kabupaten Semarang, dulu untuk wisata mengunjungi Taman Bunga Celosia.

Tiba di Bandungan sekitar pukul 07.00 pagi. Kami istirahat sejenak di pompa bensin, kemudian cari sarapan di sekitar Bandungan. Tentu saja, kita mencari makanan khas Kabupaten Semarang. Karena berada di dataran tinggi, rata-rata hampir sama jenis makanan khasnya seperti di Kemuning dan Kota Batu, yaitu sate kelinci. Alhasil Kami pun makan sate kelinci dan sopnya di salah satu rumah makan.

Tubuh terasa hangat di tempat yang singin setelah menikmati sarapan dan minuman hangat.

Kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat wisata Celosia yang berada di lereng Gunung Ungaran. Berbekal Google Map, kami menyusuri jalan Bandungan yang tidak besar, berkelok dan naik turun seperti di Kota Batu dan Kemuning.

Taman Bunga New Celosia

Sebenarnya kunjungan kami ke Celosia ini sebelum terjadi kebakaran di tahun 2024. Haha. Lama banget kan ya. Beberapa bulan setelah kunjungan kami, Celosia mengalami kebakaran dan menyebabkan beberapa wahana terbakst sehingga harus direnovasi. 

Tempat wisata di daerah ketinggian ini memang menarik banyak pengunjung. Ketika kami tiba di sana, parkirannya sangat luas dan berkontur, tapi tetap saja kami kesulitan mencari tempat parkir. Ternyata luasnya visa mencapai 15ribu m2. Rata-rata sudah diisi dengan bus, minibus dan mobil-mobil. Akhirnya kami dapat tempat parkir yang lumayan jauh dari pintu masuk dan jalannya menurun.

Bangunan Kastil

Taman Bunga Celosia ini sangat khas dengan bangunan utama seperti bangunan kastil, kita seperti dibawa ke negeri dongeng. Sampai-sampai aku bingung mencari pintu masuk saking besarnya. 


Di loketnya pun antri. Harga tiketnya sekitar 35ribu. Sedangkan tiket terusan dapat 10 wahana gratis sebanyak 85ribu. 

Taman Bunga Celosia

Tempat wisata Celosia dirancang dengan sangat indah seolah kita sedang berada di negeri dongeng. Dan tempatnya sangat luaaaas sekali. Bayangkan aja kalian harus jalan jauh turun kemudian naik. Wah bagi lansia sangat dipikirkan kalau mau datang ke sini.

Setelah memasuki pintu masuk, kita disambut dengan berbagai macam jenis bunga yang warna-warni di ruangan yang semi terbuka. Tanaman-tanaman digantung. Di sisi kanan- kiri kami juga tanaman-tanaman menghiasi taman. Untuk orang yang tinggi mungkin sedikit mengenai tanaman gantung tersebut. Jadi mungkin kurang nyaman ya.



Salah satu alasan kenapa wisata ini diberi nama Taman Bunga Celosia karena memang dipenuhi dengan taman-taman bunga yang cantik.


Setelah itu, kita akan disuguhkan pemandangan cantik tempat wisata. Banyak orang yang berfoto-foto di depan taman Bunga, di kolam yang terdapat jalan jembatan di atasnya. Bunga-bunga menghiasinya.



Ruang terbuka di depan kami menyuguhkan pemandangan tempat wisata yang sangat luas. Karena berada di tempat yang terbuka, kami bisa melihat di bawah sana ada bangunan yang mirip kastil juga. Ada kincir angin dan carousel yang dikelilingi taman Bunga.


Pengunjung tampak sangat kecil bergerombol di bawah sana. Wahana-wahana permainan ramai oleh pengunjung. 

Rainbow slide

Wahana pertama kami adalah rainbow slide. Dan pertama kalinya kami mencoba wahana ini ya di Wisata Celosia ini. Rainbow slide di sini cukup panjang dan tinggi.

Salahnya, kami datang di saat akhir pekan. Jadi rame kayak dapet. Ya Allah. Tapi ya mau gimana lagi kan yaa dinikmati aja.

Jadinya untuk naik rainbow slide aja kami harus antri 30 menit. Ya Allah... kalo nggak karena jauh nggak bela-belain deh naik ini. 

Kalau mau tambah tiket juga bisa di sini tapi ya gitu jadinya antrinya makin lama. Kalau sudah punya tiket dari awal tinggal antri aja. 

Ketika mendekati garis start, aku dan dua anakku memilih helm masing-masing. Setelah itu, petugas akan memberi ban besar dan panduan saat meluncur. 


Enaknya, dengan harga rainbow slide ini, kita bisa mendapat file video saat kita meluncur. Untuk mendapatkan filenya, kita harus bayar sekitar 15ribu (kalau tidak salah). 

Saat kami meluncur, kami dibuat berbaris. Dan rainbow slide ini cukup tinggi sampai aku berteriak kencang. Sumpah sih ngeri kayak mau glundung. Haha.

Flying Bee

Setelah turun dari rainbow slide, anak-anak mencari wahana lain yang seru. Sebenarnya yang seru itu bukan wahananya tapi aktivitas di luar wahana. 


Di wahana ini pun anak-anak juga harus menunggu sekitar 15 menit karena banyak yang antri naik wahana ini.

Dino Park

Salah satu wahana yang disukai anak-anak adalah adanya Dino Park. Taman yang dikelilingi Dino KW dan bisa berbunyi ini sangat dinikmati anak-anak.

Sebenarnya banyak sekali wahana di tempat wisata ini tapi kami pilih-pilih deh yang kira-kira anak-anak belum pernah coba.

Keliling Wisata Taman Bunga Celosia

Aku cuma keliling-keliling saja rasanya kaki sudah capek, apalagi anak-anak. Kami tidak mencoba semua wahana. Selain hemat waktu (dan biaya, haha), kami juga tidak ingin anak-anak terlalu capek. 

Ini bagian atas. Bagian bawah masih ada lagi dan luas banget.

Apa yang kami lihat? Banyak bangetttt. Ya Allah. Mulai Rumah Hantu, rainbow slide yang lebih kecil, playground anak-anak, kantin, dan wahana lainnya. Sumpah banyak bangeett. Kami pun baru bisa keluar jam 2 siang. Apalagi kalau mau semua wahana dicoba kayaknya ngga nutut deh.

Saranku memang kalau mau mencoba banyak wahana, jangan kebanyakan foto-foto karena bakal nggak nutut! Soalnya tutup jam 5 sore. 

Pulang-pulang... Ya Allah kesellll kakikuu.. haha.

Tak Perlu Ke Disneyland

Kita tak perlu pergi ke Disneyland di Paris atau Tokyo, yaa Nak. Di Celosia, kalian juga bisa merasa seperti sedang di negeri dongeng. Bisa seperti sedang bermain peran sebagai bagian dari keluarga raja. 😅

Tampaknya Celosia diperuntukkan untuk seorang putri raja, tapi seorang raja pun bisa memasuki kastil dari negeri dongeng kan? 

Wahananya bisa untuk seorang putri, pangeran, raja, juga permaisuri😆 siapa saja untuk anggota keluarga kerajaan. 

Celosia sangat luas. Siapa saja yang mengunjunginya harus punya tenaga yang lebih. Sebab, ketika masih awal berkunjung masih melalui jalan turun. Tapi saat pulang, siap-siap naik-naik ke puncak gunung.🥵 Mungkin seperti hidup, jika kita terlalu santai dan senang2 di awal, siap-siap akan lelah di akhir.

Sudah, Nak. Cukup kita bermain peran menjadi keluarga raja seperti sedang bersenda gurau. Samalah seperti hidup ini. Semua hanya permainan, senda gurau, perhiasan dan kesenangan yang menipu. Ini hanya fatamorgana. Dan akan berakhir. Kecuali kesenangan di akhirat yang abadi.

Read More

Setelah check out dari Villa Arjuna Telaga Sarangan, kita nggak langsung pulang tapi kita mencari destinasi wisata di Magetan yang dekat dari telaga Sarangan dan yang menyenangkan buat anak-anak. Sempat bingung karena rata-rata tempat wisata sekarang kebanyakan untuk selfie. Anak-anak mana doyaan begitu. Rata-rata juga wisata alam yang sebenarnya sama aja di banyak tempat, bahkan di Malang. Maunya cari yang berbeda dan anak-anak bisa bermain. Sebenarnya ada dua tempat wisata di sana yang jadi target kunjungan kami. Aku mencari informasi tentang Lawu Green Forest dan  Mojosemi Forest Park dari Google dan ulasan. Setelah melihat atraksi apa yang ada di dalam tempat wisata tersebut, kami pun pergi ke Lawu Green Forest (LGF) karena atraksinya banyak.


Lawu Green Forest, Wisata Berbasis Hutan

Jika kita memasuki tempat wisata, pepohonan pinus berdiri tegak dan menyejukkan. Pohon-pohon pinus yang besar membuat tempat parkiran terasa lumayan teduh meski sinar matahari masih menembus tanah. Ditambah lagi daerah ini berada di dataran tinggi lereng Gunung Lawu jadi terasa lebih sejuk.

Tempat wisata berbasis hutan ini berada di wilayah kerja Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sarangan. Kawan ini termasuk kelas hutan lindung yang boleh dikelola menjadi kawasan wisata dan pertanian, asal tidak digunakan untuk mendirikan bangunan secara permanen, mengubah bentang alam yang ada, dan mengubah fungsi hutan. Dan ternyata, hutan lindung yang dikelola menjadi tempat wisata tersebut harus ada Mou bagi hasil antara investor dan Perhutani.

Di sini, anak-anak tidak hanya mengenal ciri hutan pinus, tetapi juga menikmati atraksi wisata yang ada di dalamnya.

Tak Jauh dari Lawu Green Forest

Lokasi Lawu Green Forest sebenarnya tidak jauh dari Telaga Sarangan. Lokasinya berada di jalan Sarangan-Cemorosewu Km, Kali Jumok, Sarangan, Kec. Plaosan, Kabupaten Magetan. Peppohonan rindang tersebar di kiri dan kanan jalanan yang meliuk menanjak. Memang jalanan dari dan menuju Telaga Sarangan menanjak, meliuk dan tidak terlalu lebar. Makanya kudu hati-hati nyetir di jalanan ini. Jangan sampai mengantuk. Pastikan juga rem mobil aman. 

Memasuki Lawu Green Forest

Sesampainya di sana, gerbang tempat wisata yang besar tertera jelas nama tempat wisata sehingga kami tahu tidak salah tempat. Rombongan kami memasuki parkiran LGF. Kendaraan-kendaraan hampir memenuhi tempat parkir yang belum dipaving. Tak hanya mobil saja, bus dan minibus terlihat parkir di tempat wisata tersebut. 

Beberapa pengunjung memasuki loket. Sebagian menikmati makan siang di restoran yang ada di bagian depan. Rombongan kami terus masuk dan membayar tiket masuk Lawu Green Forest. Tiket masuknya sekitar Rp. 20.000,- sampai Rp. 25.000,-. Ada juga tiket terusan seharga Rp. 90.000,- bisa memainkan semua wahana, tapi kami memilih tiket satuan saja dulu.

Jam buka Lawu Green Forest untuk pengunjung dari pukul 08.00 - 17.00 WIB. Namun, bagi pengunjung yang bermalam di penginapan, LGF ini buka selama 24 jam.


Restoran Keluarga Konsep Joglo

Di bagian depan terdapat restoran berbentuk Joglo. Jika kalian belum sarapan atau makan siang, lebih baik makan di restoran ini saja, daripada harus keluar dari tempat wisata. 



Sebenarnya di dalam tempat wisata juga ada tempat makan tapi hanya untuk menu sederhana, seperti mie instan. Sedangkan di restoran ini menunya lebih lengkap dan mengenyangkan seperti bebek, ayam, ikan, sate, sapi, dan lain-lain. Minumannya juga beraneka ragam, seperti wedang jahe, kencur, jeruk, dll. Ada snack juga seperti singkong, nugget, sosis, Harga makanannya sekitar 20.000 - 38.000 rupiah.


Atraksi Wisata

Sebenarnya banyak sekali atraksi wisata di LGF, seperti rainbow slide, luge kart, gondola, tamiya gravity, dsb, tapi waktu kita ke sana, hanya beberapa saja yang bisa kita nikmati, seperti rainbow slide dan kampung tematik. Ternyata ketika ingin menaiki Luge Kart, tidak ada petugas yang menjaga. Sayang banget deeehhhh.


Rainbow Slide

Melihat wahana rainbow slide, anak-anak langsung berlarian tanpa mengerti kalau untuk naik wahana itu harus beli tiket dulu. Wahana ini tidak termasuk dalam tiket masuk. Tiket wahana ini sekitar 20.000 rupiah.

Lawu green forest


Setelah membeli tiket, mereka langsung naik ke atas dan akan dipandu oleh petugas. Satu per satu mereka turun dengan ban yang mereka naiki. Suara teriakan mereka terdengar oleh kami yang sedang menunggu di ujung wahana. Suara teriakan itu bukan menandakan ketakutan, tetapi keseruan. Banyak yang ingin mencoba terus. Haha. Dipikir nggak pake duit.

Kampung Salju

Kampung salju ini termasuk fasilitas yang didapatkan gratis. Anak-anak berlarian dan memasuki bangunan berbentuk Iglo bersama pengunjung lainnya. mereka harus menunduk-nunduk agar tidak terbentur kepalanya. Pepohonan meranggas yang ditutupi salju palsu. 

Kampung salju magetan


Anak-anak bermain di kampung yang tampak seperti salju padahal itu hanya pura-pura. Mereka hanya berputar-putar, mengelilingi kampung Salju. Patung salju dengan tangan berbentuk kayu menarik perhatian bayi 2 tahun. Di bagian Kampung Salju ini, tanahnya sudah dipaving. Mungkin biar tampak seperti di luar negeri.

Kampung Jepang

Setelah bermain salju pura-pura, anak-anak berlarian menuju kampung Jepang. Bagi mereka sih, cukup tahu aja, desain bangunan Jepang dan pohon Sakura itu ya khas seperti di negara Jepang. Tapi bagi orang dewasa, tempat seperti itu dijadikan spot selfie. 

Seoul Street

Satu sudut mirip kuil di Korea berwarna merah. Pengunjung bisa naik ke dalam bangunan. Aku cukup berfoto dari luar Menara Pagoda bersama patung orang Jepang yang memakai Kimono. Patung panda besar sedang memakan daun duduk di dekat Seoul Street. 


Castle

Kastil ini sebenarnya sebuah panggung dengan tulisan Lawu Green Forest. Bisa untuk berfoto bersama dalam jumlah banyak atau untuk pentas acara. Di depannya sudah disediakan dudukan lesehan berlapis karpet rumput hijau imitasi. Banyak pengunjung duduk di sini untuk menikmati makanan yang mereka bawa atau beli. Karena sudah menjelang Ashar, kami memilih membeli makan Indomie Cup yang lebih praktis.

Simbol Agama

Di sini juga ada miniatur Ka'bah di antara pepohonan pinus. Aku sekeluarga berfoto bersama di depan miniatur Ka'bah. Semoga kelak, kami benar-benar bisa berfoto bersama di depan Ka'bah yang sebenarnya. Aamiin. Ada juga vihara dan patung budha di depannya. Aku tidak terlalu memperhatikan simbol agama lainnya.


Kebun Bunga

Tempat wisata ini sebenarnya ditata dengan cukup apik dan berwarna-warni, putih, ungu, kuning, oranye, merah hingga pink. Sayangnya, bunga-bunga di Kebun Bunga itu banyak yang palsu. Haha. Tapi ada juga kok tanaman asli, seperti anggrek bulan, sendok, kerlip, spesies Lawu, dll.


Boneka Hutan Trool

Satu lagi atraksi yang menarik anak-anak adalah boneka hutan Trool. Boneka ini bisa bergerak dan bersuara dari sensor yang dipasang di dekatnya. Anakku tidak takut justru penasaran dan bisa berlama-lama di sana, padahal wajahnya lumayan menyeramkan.


Camping Ground dan Villa

Ternyata di sini juga ada camping ground. Pengunjung bisa berkemah di sini dengan tenda. Pengunjung juga bisa menyewa villa untuk menginap. Ada 5 macam villa dengan harga yang berbeda-beda seperti Villa Arjuna, Villa Sadewa, Villa Nakula, Villa Bima dan Villa Yudistira.

Fasilitas Lain

Masih ada fasilitas pendukung tempat wisata lainnya, seperti toilet (yang kebersihannya menurutku masih kurang), Musholla, meeting room, restoran, tempat makan kecil, meeting room, dan lain-lain.

Kesan Pertama

Kesan pertama saat lihat di Google begitu menyenangkan karena berharap bisa menikmati wahana di sana. Ternyata tidak semua buka. Entah karena sudah di atas jam 12 siang, atau emang tidak ada petugasnya. Sayang banget sih, padahal pasti seru. Kalopun kesini lagi, sepertinya harus dipastikan apakah wahananya semua bisa dinaiki atau tidak. 



Read More

Follower